Oleh  Leihana 
                 (Ibu Pemerhati Umat) 


Desingan suara peluru dan mesiu menjadi pengantar tidur anak-anak Gaza. Kabar haru biru tentang kepergian orang tercinta bukan sebuah cerita drama di negeri Palestina. Ribuan anak-anak tiba-tiba berubah status menjadi yatim dan piatu tanpa rasa kasihan. Kisah derita dan tangis yang tak ada habisnya ini adalah kenyataan yang dihadapi anak-anak Gaza dalam kesehariannya. 

Fakta Penderitaan Anak-Anak di Gaza 

Kenyataan pahit ini benar-benar nyata tertulis dalam data seperti yang ditulis Philippe Lazzarini  kepala badan PBB di X bahwa sedikitnya 322 anak dilaporkan tewas sejak Israel memperbarui serangannya pada 18 Maret 2025, menghancurkan gencatan senjata dua bulan yang mulai berlaku pada 19 Januari 2025. Hal ini dilakukan Israel secara sistematis menargetkan anak-anak bahkan menjadikan mereka sebagai tameng manusia saat melawan Hamas.(erakini.id, 5 April 2025)

Data berikutnya menuliskan kisah kelam bahwa anak-anak yatim di Palestina bertambah ribuan jumlahnya pasca 534 hari pengeboman yang dilakukan Israel sejak 7 Oktober 2023 dirilis oleh Biro Statistik Palestina seperti dilansir Al Mayadeen, Jalur Gaza kini menghadapi krisis yatim terbesar yaitu sebanyak 39.384 anak menjadi yatim sepanjang 534 hari tersebut dan 17.000 di antaranya menjadi anak yatim piatu.(liputan6.com, 6 April 2025)

Genosida yang dilakukan Israel selama lebih dari 500 hari ini telah menciptakan catatan anak yatim terbesar dalam sejarah abad modern, data ini dirilis jelang hari anak Palestina dunia tanggal 5 April 2025 oleh Biro Pusat Statistik Palestina.(mediaindonesia.com, 5 April 2025)

Dunia Menutup Mata atas Penderitaan Anak-Anak Gaza

Meski data penderitaan anak Palestina terpublikasi luas, tidak mampu menggerakkan seluruh dunia menghentikan kekejaman Israel. Justru beberapa negara sekutunya seperti AS ini mendukung kekejaman Israel tersebut.

Kekejaman yang dilakukan oleh rezim Zionis telah menyebabkan penderitaan luar biasa, terutama bagi anak-anak. Ribuan nyawa muda melayang, dan tak sedikit dari mereka yang kehilangan orang tua hingga menjadi yatim. Data menunjukkan bahwa sebanyak 39 ribu anak di Gaza telah menjadi yatim akibat agresi tersebut, dengan rata-rata 100 anak meninggal setiap harinya.

Ironisnya, semua tragedi ini berlangsung di tengah gemuruh wacana tentang hak asasi manusia serta beragam instrumen hukum internasional yang seharusnya melindungi hak anak. Namun, kenyataannya, regulasi dan lembaga internasional tersebut tampak tidak berdaya—tidak hanya dalam menghentikan, tetapi bahkan dalam mencegah penderitaan yang menimpa anak-anak Palestina.

Kenyataan pahit ini seharusnya membuka mata umat bahwa menaruh harapan pada institusi global yang ada saat ini bukanlah solusi. Masa depan Gaza dan Palestina terletak pada kekuatan mereka sendiri, yaitu melalui perjuangan politik yang berpijak pada nilai-nilai Islam dan kepemimpinan sejati yang memperjuangkan kemerdekaan dan keadilan secara menyeluruh.

Khilafah Solusi  Memupus Penderitaan Anak-Anak Palestina 

Upaya pembantaian Israel terhadap penduduk Palestina sudah terjadi puluhan tahun tanpa ada solusi tuntas. Hal yang terjadi selama lebih dari 70 tahun ini, eksistensi Palestina masih tersisa bukan karena bantuan atau pembelaan kaum muslimin atau belas kasihan HAM terhadap mereka, tetapi justru keteguhan iman dan keyakinan yang tak tergoyahkan dari rakyat Palestina–akan pembelaan dan pertolongan Allah. 

Namun, layakkah kita sebagai umat Islam yang Allah tetapkan standar sempurnanya iman–dengan mencintai saudara sesama muslim sebagaimana mencintai diri sendiri–ini tetap berpangku tangan bahkan menjadi penonton saudara kita di Palestina yang terus disiksa dan dibantai lalu diberi bantuan ala kadarnya dan dibantai lagi tiada henti?

Tentu saja menjadi kewajiban seluruh umat Islam di dunia untuk menolong dan memberikan kebebasan hakiki bagi saudara sesama muslim di Palestina. Hanya saja, tangan dan kekuatan umat Islam di dunia tersandera dan terikat oleh sekat nasionalisme yang harus patuh pada para penguasa, yang tunduk pada hegemoni Amerika Serikat yang selalu setia mendukung Israel.

Untuk itu kaum muslimin di dunia butuh persatuan dan komando serentak dari seorang imam yang menyerukan jihad untuk mengusir Israel dari Palestina. Persatuan itu hanya bisa terwujud jika Khilafah kembali tegak sebagaimana pada masa para sahabat. Umar bin Khattab mampu merebut tanah Palestina sebagai tanah umat Islam di dunia dan pada masa kekhalifahan lain Salahuddin al-Ayyubi bisa merebut kembali Palestina yang tengah diserang oleh tentara salib. 

Khilafah memiliki peran penting sebagai pelindung dan penjaga bagi umat—sebuah sistem yang tidak akan tinggal diam ketika kezaliman menimpa rakyatnya. Selama berabad-abad, Khilafah telah terbukti menjadi perisai yang kuat, menciptakan lingkungan aman dan stabil yang mendukung tumbuh kembang anak-anak, menjadikan mereka generasi unggul yang turut membangun peradaban gemilang dari masa ke masa.

Oleh karena itu, setiap muslim memiliki kewajiban untuk ikut serta dalam upaya mengembalikan sistem Khilafah. Keterlibatan ini menjadi bukti bahwa mereka tidak berpangku tangan menyaksikan penderitaan anak-anak Gaza dan keluarganya yang menjadi korban kekejaman Zionis dan para pendukungnya. Masalah anak-anak Gaza tidak bisa dipisahkan dari persoalan Palestina secara keseluruhan. Penyelesaian menyeluruh hanya dapat dicapai melalui jalan perjuangan yang serius—yakni melalui jihad dan tegaknya kepemimpinan Islam yang hakiki.

Wallahualam bissawab. []

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama