Oleh Darni Salamah, S.Sos. 
                     (Aktivis Muslimah)


Baru-baru ini dunia pendidikan tengah dihebohkan atas dugaan kecurangan dalam proses pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) untuk Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) tahun akademik 2025. Tentu hal ini mencederai juga  mencoreng pendidikan di Indonesia yang mengakibatkan hilangnya integritas pendidikan dan kejujuran dalam seleksi nasional penerimaan mahasiswa baru.

Modus Kecurangan yang Makin Canggih

Ironisnya, terdapat modus kecurangan baru yang dilakukan oleh oknum peserta UTBK SNBT 2025 dengan memasang kamera yang lolos dari deteksi metal detector yang dipasang pada gigi, kuku, ikat pinggang, dan kancing baju. Dikutip dari laman Beritasaru.com pada 25 April 2025, sejumlah calon peserta UTBK SNBT 2025 diduga melakukan berbagai bentuk kecurangan, antara lain menyebarkan soal ujian di platform X,  membawa telepon genggam yang disembunyikan di balik pakaian, hingga memasang kamera tersembunyi di behel gigi yang berhasil lolos dari deteksi metal detector.

Melalui saluran YouTube resminya pada 25 April 2025, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memaparkan hasil Survei Penilaian Integritas (SPI) Pendidikan 2024 yang menyoroti masih maraknya praktik kecurangan dan ketidakjujuran akademik di kalangan pelajar, seperti menyontek, dengan persentase sebesar 78% di tingkat sekolah dan 98% di tingkat kampus. Selain itu, sebanyak 38,4% siswa diketahui masih terbiasa menyuruh orang lain mengerjakan tugasnya, dan 20,69% lainnya lebih memilih menyontek daripada belajar. Ironisnya, tingkat ketidakjujuran tertinggi justru terjadi di kalangan mahasiswa, mencapai 57,87%."

Kecurangan dan ketidakjujuran yang dilakukan oleh pelajar saat ini jelas persoalan besar yang berimbas pada hilangnya integritas pendidikan di Indonesia. Minimnya pendidikan akidah dan juga akhlak menjadi sumber masalah terhadap terbentuknya etika para pelajar. Terlebih, konsep pendidikan yang berasaskan kapitalisme hanya menanamkan pemikiran kepada pelajar bahwa sekolah hanya sebatas formalitas, tidak peduli jujur atau tidaknya ia dalam mengerjakan tugas.

Asas Pendidikan Kapitalisme: Akar Krisis Sistemis

Persoalannya sistem pendidikan kita memang mengalami krisis yang sistemis, sehingga persoalan pendidikan tidak pernah terentaskan. Asas pendidikan yang bertumpu pada kapitalisme yang menyebabkan tidak adanya asas agama yang dilibatkan dalam aspek pendidikan kecuali ibadah ritual yang sifatnya individu. 

Pun dengan pendidikan agama yang diajarkan sebatas formalitas yang hanya menitikberatkan bahwa konsep ibadah itu hanya ritual untuk individu dan tidak memiliki nilai urgensitas dibanding materi. Tentu hal ini menjadikan output pendidikan kita tidak diarahkan untuk menjadi cerdas dan bertakwa sehingga tak heran kasus kecurangan dan ketidakjujuran dikalangan pelajar tak bisa dibendung. 

Bagaimana kita mampu mencetak generasi yang cerdas dan bertakwa apabila kondisi pendidikan kita masih bertumpu pada ketidakjujuran? Tak heran, jika negeri ini diselimuti para koruptor sebab tunas-tunasnya pun tak paham akan konsep kejujuran.

Tinggalkan Kapitalisme, Sistem Rusak yang Merusak

Kita mesti bangkit dari kondisi pendidikan yang kian semrawut ini. Namun, untuk bisa sembuh dari setiap permasalahan yang ada, kita harus berani meninggalkan asas kapitalisme dengan asas pendidikan yang lebih sahih sehingga cita-cita mencerdaskan bangsa terealisasi secara wujud nyata bukan hanya frasa.

Tak ada solusi hakiki bagi krisis pendidikan di Indonesia selain penerapan Islam secara kafah. Islam memandang pendidikan sebagai pilar peradaban yang asasnya dibangun di atas akidah Islam, bukan sistem kapitalisme yang abai terhadap proses pendidikan yang benar dan berarti. Pendidikan dalam sistem Islam juga bertujuan membangun kepribadian Islam dan membangun penguasaan ilmu kehidupan untuk para pelajar. Dengan asas akidah Islam, pendidikan akan melahirkan output berupa keimanan yang kokoh serta memiliki pola pikir mendalam (fikrah) khas pendidikan Islam.

Thariqah Khilafah Islamiyah dalam Mewujudkan Sistem Pendidikan Islam

Sayangnya ide (fikrah) tersebut akan terwujud apabila metode (thariqah) penerapannya adalah Khilafah Islamiyah. Pendidikan dalam sistem Islam adalah suprasistem Islam untuk mewujudkan output pendidikan yang realistis, bertakwa, dan menjadikan generasi yang berakidah. Sistem Islam bertanggung jawab penuh terhadap setiap pendidikan masyarakatnya bukan hanya sebatas regulator semata.

Islam melahirkan pendidikan dengan fokus yang berbeda dengan sistem kapitalisme. Ketaatan kepada Sang Pencipta menjadi sumber utamanya, mengedepankan pola pikir (Aqliyah) dan juga pola sikap (nafsiyah) sehingga menghasilkan output yang ideologis, memiliki pemikiran dan perasaaan terhadap umat, bukan pragmatis yang hanya mementingkan persoalan materi.

Dalam tinta emas, sejarah mencatat bagaimana peta perjalanan pendidikan Islam begitu membuktikan keberhasilan para pelajar dalam sistem Islam. Pendidikan pada masa keemasan Islam terintegrasi dengan sistem kehidupan lainnya, seperti dengan sistem ekonomi, kesehatan, sosial, dan sistem politik. Saat ini, dibutuhkan kesadaran kolektif dari masyarakat untuk kembali menemukan jati diri dan membangun generasi melalui pendidikan yang benar. Sebab, kita tidak akan mampu memiliki generasi emas sementara tunas-tunas generasinya sudah memiliki pemikiran yang licik. Sudah saatnya umat kembali kepada kejayaan islam seperti 100 tahun lalu yakni Khilafah. Tak ada solusi preventif bagi persoalan kehidupan, termasuk problematika pendidikan, selain Islam.

Wallahualam bissawab. []

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama