Oleh Endah Dwianti, S.E.Ak., CA., M.Ak. 
                       Aktivis Dakwah 


Kita tidak sedang menyaksikan hanya sebuah konflik politik. Kita sedang menyaksikan kejatuhan kemanusiaan, dan lebih dalam lagi, kejatuhan pemimpin-pemimpin umat yang meninggalkan amanah pembebasan tanah suci.

Korban Terus Bertambah, Luka Gaza, Luka Umat

Berdasarkan laporan terbaru cnbcindonesia.com (29 Juni 2025), jumlah korban meninggal dunia di Gaza telah bertambah menjadi 56.412 orang. Sebuah angka yang tidak hanya mencerminkan brutalitas militer Zionis, tetapi juga menggambarkan lumpuhnya dunia Islam dalam melindungi saudara seimannya.

Alih-alih mengambil langkah tegas, negara-negara muslim justru sibuk menyuarakan kembali solusi dua negara sebuah skenario diplomatik yang sudah lama ditolak oleh mayoritas rakyat Palestina yang tulus dan teguh dalam perjuangannya. Bahkan dalam laporan Republika.com (2025), diketahui bahwa proses normalisasi hubungan antara Israel dan negara-negara Arab, termasuk Saudi, masih terus berlangsung, meskipun disertai perundingan gencatan senjata.

Mirisnya, perundingan ini justru memperkuat narasi bahwa Tepi Barat berada di bawah kedaulatan Israel. Menunjukkan jelas bahwa pengkhianatan politik terhadap Palestina kini menjadi langkah resmi sebagian penguasa muslim.

Solusi Dua Negara adalah Jalan Buntu yang Diulang-ulang

Solusi dua negara telah digulirkan sejak perjanjian Oslo (1993). Namun selama lebih dari tiga dekade, justru semakin banyak tanah Palestina yang direbut, pemukiman ilegal Israel diperluas, dan blokade atas Gaza terus membunuh perlahan-lahan. Pertanyaannya, jika solusi ini tak pernah membuat pembantaian tersebut berhenti, mengapa terus dikampanyekan?

Ini bukan hanya kebodohan strategis, tetapi pengkhianatan atas amanah syariah. Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesama muslim adalah saudara. Ia tidak akan menzalimi, apalagi menyerahkannya ke tangan musuh.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pengkhianatan penguasa muslim yang melegitimasi hubungan dengan Israel, serta mengkampanyekan solusi dua negara, adalah bentuk “penyerahan” kaum muslimin Palestina kepada para penjajah. Mereka membalut pengkhianatan ini dengan dalih diplomasi dan perdamaian, padahal suatu tipuan.

Mengapa Khilafah adalah Solusi Hakiki?

Banyak orang masih mencibir ide Khilafah dengan menyamakannya sebagai utopia yang tak realistis. Padahal, keberadaan Khilafah selama lebih dari 1300 tahun dalam sejarah Islam justru menjadi bukti konkret bagaimana umat bisa hidup dalam satu barisan dan satu komando.

Dalam sistem Khilafah: tanah umat tidak bisa dijual atau dinegosiasikan, karena ia adalah milik seluruh umat, bukan hanya milik rakyat lokal. Jihad fi sabilillah adalah kebijakan resmi negara, bukan sekadar gerakan milisi yang terbatas logistiknya.

Khilafah memiliki struktur militer dan politik global untuk melindungi setiap wilayah umat Islam dari penjajahan. Perjanjian Umariyah antara Khalifah Umar bin Khattab dan penduduk Palestina adalah bukti bahwa Khilafah tidak hanya merebut tanah, tetapi menjaga hak-hak rakyat lokal secara adil. Kini, perjanjian itu dikhianati oleh upaya membagi tanah Palestina dengan musuh yang menjajahnya dengan darah.

Jihad adalah Solusi, Bukan Emosi

Mendukung solusi Khilafah dan jihad bukan berarti menikmati penderitaan rakyat Gaza atau tidak peduli terhadap kemanusiaan. Justru sebaliknya, umat Islam yang benar-benar peduli akan mencari solusi strategis, bukan sekadar donasi dan doa. Bantuan kemanusiaan dan doa-doa masih tetap perlu dialirkan, tetapi tidak akan mampu menghentikan penjajahan. Sebab akar masalahnya adalah eksistensi entitas Zionis yang hidup dari penjajahan dan didukung oleh imperium global, terutama Amerika Serikat. 

Maka tidak mungkin masalah ini selesai kecuali dengan kekuatan militer dan politik global, sesuatu yang hanya bisa diwujudkan oleh negara Khilafah. Allah Swt. berfirman, “Dan perangilah mereka, agar tidak ada fitnah dan agama hanya bagi Allah semata.” (QS. Al-Baqarah: 193)

Umat Harus Bangkit dari Ketertipuan

Sudah saatnya umat berhenti berharap pada solusi dari Barat. Barat tidak pernah menginginkan umat Islam bersatu, apalagi bebas. Mereka ingin umat ini tetap terpecah, lemah, dan terus bergantung pada sistem mereka, demokrasi sekuler, ekonomi kapitalis, dan perjanjian damai palsu.

Kebangkitan umat tidak dimulai dari perundingan PBB atau pemilu. Kebangkitan dimulai dari kesadaran ideologis bahwa hanya Islam yang bisa menjadi sistem global yang adil dan kuat. Maka, solusi Gaza bukan hanya militer, tetapi politik sistemis dan peradaban. Khilafah adalah satu-satunya entitas yang dapat menyatukan kekuatan umat, menyudahi penjajahan, dan membebaskan Palestina dengan kemuliaan.

Jalan Terjal, tetapi Mulia

Perjalanan menuju kebangkitan umat memang tidak mudah. Akan banyak tantangan, fitnah, bahkan penolakan dari umat sendiri yang belum memahami. Namun, sebagaimana dakwah Rasulullah ﷺ yang dimulai dari minoritas teraniaya hingga akhirnya mengguncang imperium dunia, kita pun harus yakin bahwa kebangkitan hakiki umat ini adalah janji Allah. “Kemudian akan ada Khilafah 'ala minhajin nubuwwah.”
(HR. Ahmad)

Mari, berhenti berharap pada musuh, dan mulai bersiap menjadi bagian dari generasi penolong umat. Gaza sedang menunggu, dan darah para syuhada menjadi saksi bahwa umat ini pernah berjaya dan akan berjaya kembali.

Wallahualam bissawab. []

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama