Oleh Endah Dwianti, S.E.Ak., CA., M.Ak.
(Pengusaha)
Potret generasi muda Indonesia kian mengkhawatirkan. Dalam sepekan terakhir saja, media dipenuhi berita kekerasan yang melibatkan pelajar. Di Pangkep, Sulawesi Selatan, seorang siswa SMK dikeroyok di depan sekolah hingga videonya viral (Beritasatu.com, 14/8/2025). Di Serpong, Tangerang Selatan, 54 pelajar ditangkap polisi saat hendak tawuran. (Kompas.com, 9/8/2025)
Peristiwa yang sama juga terjadi di Bandung, rasa cemburu telah menewaskan seorang pelajar SMK akibat ditusuk (Beritasatu.com, 13/8/2025). Di Jakarta, lima pelajar melakukan aksi brutal, yakni membegal sopir truk dan menganiaya seorang lansia (Beritasatu.com, 13/8/2025). Bahkan di Simalungun, Sumatra Utara, ditemukan mayat pelajar dengan wajah terbungkus dan baju berlumuran darah (Detik.com, 12/8/2025). Kasus yang tak kalah mengerikan datang dari Muratara, Sumatra Selatan: seorang siswa SD menusuk pelajar MTs hingga tewas hanya dengan gunting. (Detik.com, 13/8/2025)
Rangkaian peristiwa ini bukan sekadar kriminalitas remaja biasa. Ini adalah sinyal bahaya dari generasi yang tumbuh dalam sistem yang salah yakni kapitalisme-sekuler.
Kegagalan Sistem Pendidikan Sekuler-Kapitalis
Sistem pendidikan yang saat ini diterapkan memisahkan agama dari kehidupan. Output-nya adalah generasi yang tidak tahu jati dirinya sebagai muslim, tidak memahami misi penciptaannya, dan tidak memiliki standar benar atau salah berdasarkan Islam. Nilai akademis mungkin diajarkan, tetapi pembentukan kepribadian Islam yang menjadi benteng moral hampir diabaikan.
Sedangkan dalam Islam, pendidikan dilandaskan pada akidah Islam yang bertujuan untuk melahirkan pola pikir (aqliyah) dan pola sikap (nafsiyah). Rasulullah ﷺ membina para sahabat dengan ilmu yang membentuk keimanan dan ketaatan, bukan sekadar keterampilan duniawi. Dalam sistem kapitalis, pendidikan justru diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja, bukan mencetak generasi berkarakter mulia.
Kerusakan generasi juga diperparah oleh lingkungan sosial yang tidak suportif. Tawuran, geng motor, narkoba, pornografi, dan pergaulan bebas menjadi fenomena biasa. Media, yang seharusnya menjadi sarana edukasi, justru menjadi saluran utama masuknya budaya hedonisme, kekerasan, dan kebebasan tanpa batas. Semua ini dibiarkan atas nama “kebebasan berekspresi”, tanpa filter syariat.
Dalam Islam, negara memiliki kewajiban mengatur media agar menjadi sarana dakwah dan pendidikan, bukan mesin perusak moral. Rasulullah ﷺ menutup semua pintu yang dapat merusak akidah dan akhlak masyarakat.
Kapitalisme tidak pernah peduli apakah generasi memiliki akhlak mulia atau tidak. Fokusnya hanya pada keuntungan ekonomi. Budaya pop yang merusak, industri hiburan yang penuh maksiat, dan media yang mengumbar kekerasan hanyalah efek samping dari orientasi profit. Sistem ini tidak punya tujuan membentuk manusia yang taat kepada Allah, melainkan manusia yang produktif secara ekonomi meskipun moralnya hancur.
Solusi Islam Kafah, Mencetak Generasi Mulia
Islam memiliki sistem yang menyeluruh untuk membina generasi. Di bawah institusi Khilafah, pendidikan tidak hanya mengajarkan ilmu dunia, tetapi juga membentuk kepribadian Islam yang kokoh. Kurikulumnya dirancang untuk menjadikan setiap pelajar sadar bahwa ia hamba Allah dan khalifah di muka bumi, sehingga semua pikirannya diarahkan pada ketaatan kepada-Nya.
Negara Islam juga akan:
1. Mengawasi media agar bersih dari konten yang merusak.
2. Menyediakan lingkungan sosial yang mendorong kebaikan.
3. Menegakkan hukum yang tegas untuk mencegah kriminalitas.
4. Menjamin kesejahteraan keluarga sehingga anak tidak tumbuh di tengah tekanan ekonomi yang memicu kriminal.
Maka, akan terwujud generasi yang gemilang, yakni kuat, berkarakter, berilmu, dan bermartabat. Bukan generasi rusak yang terjerumus ke dalam kemaksiatan.
Rentetan kasus kekerasan pelajar adalah alarm keras bahwa sistem yang kita terapkan gagal total. Selama kita bertahan dengan kapitalisme-sekuler, kerusakan generasi hanya akan bertambah parah. Islam kafah adalah satu-satunya solusi yang telah terbukti selama 13 abad membina generasi terbaik umat manusia.
Wallahualam bissawab. []
Posting Komentar