Tjandra Sari Sutisno, M. Pd
                   (Pemerhati Anak)


Kebiasaan anak adalah bagaimana rutinitas di dalam suatu tatanan rumah tangga, sikap perilakunya melihat aktivitas orangtua dan lingkungan sekeliling. Keseharian melakukan apa yang ditirunya, perkataan atau perbuatan bagai kertas putih mau mengukir seperti apa kita di lembaran tersebut.

Anak adalah buah hati dari pasangan suami istri, yang pastinya sangat dinanti dan diharapkan. Tak heran bila ada yang bela-belain ikut program kloning, atau angkat anak sebagai pancingan keturunan/mitos agar cepat memiliki momongan ada lagi bahkan rela, minum jamu dan berbagai cerita lain demi hadirnya sang putra/putri tercinta.
Tidak sedikit pula yang banyak anak, akhirnya tidak terkontrol baik pendidikan ekonomi atau perhatiannya. Orangtua sibuk mencari uang, agar bisa menghidupi rumahtangga atau bisa dibilang biar dapur ngepul dan sebagainya. Sehingga anak kurang kasih sayang, tidak adil antara anak pertama kedua atau terakhir.

Kisah anak tak ada habisnya, pasti sejuta polah yang dibuatnya alih-alih mencari perhatian ataupun sekedar sensasi. Masa peralihan dari anak ke remaja membuatnya, semakin tak bisa ditebak mau nya apa. Salah asuh bisa berbahaya, hingga penyesalan tak henti. Harus pandai-pandai mencari celah, masuk ke hati bocah dengan tarik ulur lihat kondisi moodnya.

Banyaknya parenting diadakan pembekalan calon orangtua atau kegiatan pra hamil dalam rangka, bagaimana menghadapi hadirnya keturunan kelak. Namun itu pun tidak membuat para orangtua berubah atau sadar, bagaimana penanganan anak yang tepat. Atau hanya segelintir usaha, individu untuk dirinya senditi dan kalangan komunitasnya. Hukuman atau sangsi yang diterapkan hanya, sebatasnya saja tanpa ada contoh suri tauladan yang jelas.

Fakta

Sebagai contoh, di sebuah laman web yang berjudul Fenomena Anak Mengakhiri Hidup adalah Ancaman Serius — Mayoritas anak-anak dan remaja yang mencoba mengakhiri hidup memiliki gangguan kesehatan mental yang serius, stres, keraguan diri, tekanan dan lain-lain. (batukarinfo.com, 18-1-2024)

Ada lagi berita, Hari Anak Nasional 2025: Apakah Anak Indonesia Sudah Cukup Terlindungi? Per 26 Agustus 2023, tercatat hampir 2.000 anak berkonflik dengan hukum. Sebanyak 1.467 anak di antaranya berstatus tahanan dan masih menjalani pengawasan. (kompas.id, 23-7-2025)

Begitulah kurang lebih nasib anak, yang seharusnya penuh kebahagiaan bermain dengan teman, berlarian/kejar-kejaran, kasih sayang penuh dari orangtua dan lingkungan. Justru mengalami banyak permasalahan, perlindungan atau payung hukum hanya mimpi yang semu kelam tanpa adanya kepastian. Boro-boro mikir masa depan cerah, yang ada malah gelap hidupnya terombang-ambing.

Mana pendidikan ramah anak, hak asasi manusia cuma slogan dibibir saja miris dengan sistem yang katanya demokrasi. Tontonan televisi, gedget tak seronok isi nya iklan kepalsuan, game memperlihatkan lekuk tubuh wanita, pamer aurat atau judi di setiap platform. Tetangga sekitar asik gibah, (tidak sadar berbuat maksiat), para agen atau marketing pun omong-kosong belaka.

Orang tua sibuk masing-masing, demi perekonomian keluarga ada juga yang ribut/berantem satu sama lain saling ego akhirnya selingkuh atau mencari pelampiasan ke hal negatif. Para praktisi hanya tahu yang penting bisnis lancar, tidak mempertimbangkan anak adalah generasi penerus bangsa, calon-calon pemimpin di negara ini.

Kebijakan yang ada justru, menginginkan keuntungan sebanyak-banyaknya demi keserakahan kelompok saja. Tanpa melihat betapa kasihan rakyat, dengan segala kondisi (dalam hal ini anak/kaum lemah menjadi korban). Makanya ya kita harus berjuang demi kehidupan yang terus menerus dihimpit, persoalan hutang atau gaya hidup dan lain-lain. 

Artis-artis serba konsumtif, pergaulan free sex, senang glamor/hura-hura hidup hedonis tidak ada rasa iba sedikitpun bagaiman nasib follower/penggemarnya nanti. Asyik flaxing di sosmed/medsos membuat iri, yang mengakibatkan sang anak ikut-ikutan ala idola karena merekalah sebagai contoh. Dimana pikiran seoarang  anak, belum mengenal jangka panjang dan pendeknya (atau sebab-akibat dll) hanya tahu sebatas kemampuan akalnya saja.

Solusi hakiki

Dari sekelumit prolematika, tersebut penjabaran yang sangat gablang membuat kita yang pikiran masih normal ini harus mengambil sikap. Bagaimana nanti kabar anak-anak tidak mengalami cerita seperti diatas, sangat mengerikan sekali. Ditengah gempuran dari berbagai arah, kondisi yang luar biasa dahsyatnya. Seperti gambaran awal pembahasan, betapa kita sebagai ibu putar otak memohon ampunan Allah Ta'ala serta memilih lingkungan anak yang terbaik. 

Sekolah pun harus sesuai hak, sebagai orang tua memberikan contoh baik dan masih banyak lagi. Ikut komunitas selalu pada ketaatan, jalan dakwah sarana mengingatkan ummat bahwa ini adalah wajib. Suasana saat ini sedang tidak baik-baik saja, bila dibiarkan seperti apa kelak. Amalan bagaimana yang akan kita bawa, bila  terus dalam gelombang kehinaan nerakalah tempat kembali astaghfirullah. 
Naudzubillah bimbinglah kami semua wahai Zat Maha Kekal, sehingga tahu mana yang haram, wajib, sunnah, makruh dan mubah.

Masya Allah, tak ada yang sia-sia hidup ini, bila bersandar pada aturanNYA. Dalam islam semua problematika tidak ada yang bisa di selesaikan, kecuali dengan hukum yang sudah ditetapkanNYA. Bagaimana penanganan pada anak pun, semua sudah ada solusianya. Sebagaimana Rasulullah SAW memperlakukan Fatimah, Zainab atau anak-anak beliau yang lain. Serta krpada cucu, ketika saat sedang sholat berada dipunggung yang denganNYA ikut digendong atau Nabi Ibrahim dan Nabi Ya'qub mewasiatkan agama kepada anak-anak mereka.

Serta dalil lain dalam Qur'an surat Luqman, menasehati anaknya tentang tauhid dan menjauhi perbuatan buruk. Begitu sempurna Allah Rabbul 'alamin, menciptakan alam semesta beserta isinya. Sejatinya seorang anak itu diperlakukan secara manusiawi bagaimana dalam tuntunan Qur'an dan Hadist. Kembalikan hak dan kewajibannya, untuk terus di bimbing dan arahkan yang terbaik.

Bismillah, niatkan semua karena Allah Azzawajalla, membesarkan/mendampingi anak-anak dengan penuh ke ikhlasan. Amiiin Allahuma amiiin..

Wallahualam bissawab. []

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama