Oleh Leihana 
                 (Ibu Pemerhati Umat)


Di tengah kesibukan pagi mempersiapkan kebutuhan anak dan suami yang hendak berangkat sekolah serta bekerja, penulis dikejutkan dengan pertanyaan putra kedua yang berusia sembilan tahun. “Ibu, pagi di Gaza itu seperti apa?”

Penulis menghentikan seluruh aktivitas, lalu memandang anak kelas 4 SD itu dengan serius. Setelah menarik napas panjang, penulis menjawab, “Pagi di Gaza tentu sangat berbeda dengan kesibukanmu di sini. Kamu masih bisa salat Subuh di masjid, lalu mandi, sarapan, dan bersiap ke sekolah dengan perlengkapan lengkap. Anak-anak di Gaza tidur dan bangun diiringi suara bom dan peluru. Bisa jadi, ada yang terbangun dalam keadaan kehilangan rumah, bahkan orang tua. Bukan hanya tidak bisa sekolah, mereka pun sulit makan. Ibu tahu semua itu dari berita yang disampaikan jurnalis di sana, salah satunya yang baru-baru ini Ibu baca lewat ponsel pintar.”

Penulis menambahkan bahwa kabar dari Gaza kini semakin sulit didapat. Wartawan yang mencoba melaporkan situasi justru dijadikan target Israel. Antonio Guterres, Sekjen PBB, mengecam keras serangan udara Israel yang menewaskan enam jurnalis Palestina di Gaza City pada Minggu (10/8). Pernyataan itu disampaikan lewat juru bicara PBB, Stephane Dujarric, pada Senin (11/8). (Antaranews.com, 12-8-2025)

Selain itu, penulis juga menyampaikan kabar tentang anak-anak dan perempuan di Gaza yang terancam kelaparan. Menurut laporan Kantor HAM PBB, sejak 27 Mei sampai 13 Agustus, sedikitnya 1.760 warga Palestina tewas saat mencoba mengakses bantuan di Gaza, sebanyak 994 korban di kawasan non-PBB yang dikuasai militer, dan 766 lainnya di jalur konvoi bantuan. (Antaranews.com, 17-8-2025)

Itulah yang penulis ceritakan kepada putra yang penasaran dengan kabar Gaza. Lalu, bagaimana kondisi Gaza kini, ketika media terus dibungkam oleh Zionis Israel?

Derita Pilu Rakyat Gaza

Masih cukup banyak pemberitaan resmi yang menegaskan Israel melakukan pembunuhan terhadap jurnalis yang tengah berjuang melaporkan kondisi Gaza. Mereka mempertaruhkan nyawa, bahkan ikut merasakan kelaparan akibat blokade, demi kebenaran sampai ke seluruh dunia. Namun, Israel tetap menjadikan para jurnalis sebagai sasaran.

Meski menuai kecaman dari PBB, lembaga internasional, aliansi, dan tokoh berpengaruh di berbagai belahan dunia, serangan terhadap jurnalis tetap terjadi. Kekejaman Zionis makin brutal, dengan korban terbesar adalah perempuan dan anak-anak. 

Blokade bantuan juga memperparah kelaparan yang merata. Lebih jauh, Israel bahkan mengusulkan relokasi rakyat Gaza, sebuah bentuk pengusiran terhadap penduduk asli yang paling berhak tinggal di tanah itu.

Akibat Tidak Adanya Kepemimpinan Islam Global

Menjadikan jurnalis sebagai target berarti membungkam suara Gaza. Nyawa mereka adalah napas perjuangan, yang dibungkam agar kebiadaban Israel tenggelam dalam kesunyian.

Israel bertindak brutal tanpa peduli pada hukum apa pun. Namun yang lebih menyedihkan, para penguasa di negeri-negeri muslim tetap diam. Sebagian bahkan menutup pintu bantuan, membuat penderitaan rakyat Palestina kian parah.

Semua ini terjadi karena tidak adanya satu kepemimpinan Islam global yang mampu menyatukan kekuatan umat. Mengerahkan materi maupun militer untuk mengusir Zionis Israel dari tanah Palestina.

Saatnya Umat Bersatu Berjuang untuk Tegaknya Khilafah

Permasalahan Palestina bagi umat Islam bukan sekadar isu kemanusiaan. Empati, kesedihan, dan rasa ingin menolong harus disertai keimanan. Iman menuntut setiap muslim mencintai saudaranya sebagaimana mencintai diri sendiri, dan wajib hukumnya menolong sesama muslim yang diperangi, apalagi yang dirampas tanahnya.

Palestina adalah tanah wakaf Islam sejak penaklukan oleh Umar bin Khattab. Maka, membela Palestina adalah kewajiban seluruh umat. Derita rakyat Gaza bisa diringankan dengan bantuan pangan, tetapi penderitaan mereka tak kan berakhir selama Zionis masih bercokol di tanah itu. Bantuan paling mendesak adalah mengusir Israel selamanya dan itu hanya bisa dilakukan dengan jihad di bawah kepemimpinan seorang khalifah dalam institusi Khilafah.

Hanya jihad yang diserukan khalifah yang bisa menggerakkan seluruh kaum muslimin, tanpa batasan bangsa atau negara. Dengan kekuatan sepadan, umat Islam akan mampu mengusir Zionis untuk selamanya.

Upaya menuju Khilafah dimulai dengan membangun kesadaran umat bahwa jihad dan Khilafah adalah satu-satunya solusi. Kesadaran itu ditumbuhkan lewat dakwah, sebagaimana dicontohkan Rasulullah saw. Maka jangan tunda lagi, serukan dakwah yang mengajak pada penerapan Islam secara menyeluruh di bawah naungan Khilafah.

Wallahualam bissawab. []

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama