Oleh Heni Ummu Faiz
Ibu Pemerhati Umat
Menilik kondisi sistem pendidikan di Indonesia sangat memprihatinkan, banyak bangunan sekolah yang rusak dan tak layak digunakan. Siswa-siswi dibiarkan belajar dalam kondisi was-was. Kondisi ini banyak terjadi di berbagai sekolah di wilayah Indonesia baik diperkotaan maupun di pelosok daerah. Seperti kejadian luar biasa di Ponpes Al Khoziny beberapa waktu lalu.
Berdasarkan data BNPB, Minggu (5/10/2025), terhitung pukul 06.30 WIB sampai 12.00 WIB, tim gabungan telah menemukan 12 jenazah dan satu lagi potongan tubuh manusia dari balik reruntuhan bangunan lantai empat musala. Penemuan itu menambah data jumlah korban meninggal dunia menjadi 37 orang dan bagian tubuh menjadi dua potongan.(news.detik.com, 5/10/25)
Sungguh miris kejadian runtuhnya bangunan Ponpes Al Khoziny yang menuai sorotan dari berbagai pakar. Salah satunya Pakar Teknik Sipil Struktur Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Mudji Irmawan mengatakan, struktur bangunan yang ambruk di Ponpes Al Khoziny dalam keadaan tidak stabil atau labil. Ini karena konstruksi bangunan awalnya direncanakan untuk satu lantai, tapi kemudian dibangun tiga lantai.(detik.com, 6/10/25)
Pembangunan gedung yang dilakukan terkesan asal-asalan dan tak mempertimbangkan keselamatan manusia. Sejak pembangunan awal bangunan tersebut hanya diperuntukkan untuk satu lantai tapi faktanya dijadikan tiga lantai. Hal inilah yang memicu terjadinya peristiwa runtuhnya bangunan. Seharusnya bangunan jika ingin ditinggikan harus diperhitungkan kontruksi bangunan agar kokoh dan kuat.
Inilah bukti jika bangunan dibangun tanpa landasan keimanan sehingga tidak memikirkan kualitas hanya asal jadi seolah-olah apa yang dilakukan tidak akan diminta pertanggungjawaban. Kurangnya dana, minimnya donasi dalam menyediakan sarana pendidikan Belum lagi saat ini pemerintah kurang pengawasan terhadap berbagai bangunan. Seharusnya pemerintah fokus dalam menyediakan fasilitas pendidikan sebagai pengayom pendidikan rakyatnya.
Akibatnya korban terus berjatuhan dan tentu hal tersebut menambah deret panjang kesedihan para orang tua santri. Hingga hari ini ada 63 orang yang meninggal dunia dari 67 kantong jenazah yang diterima.
Tragedi Akan Terus Berulang, Jika Kapitalisme Jadi Pijakan
Tragedi ambruknya bangunan pesantren sebenarnya tidak akan terjadi jika pijakan adalah Islam. Karena tentu semua unsur yang menunjang dunia pendidikan akan serius diawasi dan dipantau dengan pengawasan yang ketat agar hal-hal yang membahayakan keselamatan bisa dicegah. Namun faktanya hari ini hampir sebagian bangunan untuk pendidikan banyak yang mulai rusak dan rapuh karena pengerjaan yang terkesan asal jadi.
Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam pernyataannya seusai membuka Musabaqah Qira’atil Kutub Internasional 2025 di Pesantren As’adiyah, Wajo, Sulawesi Selatan (2/10/2025), menyampaikan bahwa Kementerian Agama akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kelayakan bangunan pondok pesantren dan rumah ibadah di seluruh Indonesia. Langkah ini merupakan bagian dari mitigasi agar tragedi serupa tidak kembali terulang.
Namun tidak cukup hanya evaluasi, tetapi harus ada peran pemerintah secara serius dalam mengawasi, menyediakan fasilitas pendidikan untuk seluruh rakyatnya secara gratis. Penetapan standar keamanan dan kenyamanan sekolah harus menjadi acuan agar suasana pembelajaran pun dapat dirasakan oleh para pencari ilmu.
Islam Solusinya
Tak ada peradaban yang paling adil dan beradab selain dari Islam. Sistem ini telah membuktikan kepada dunia bahwa pendidikan dalam mampu mencetak generasi yang unggul dan cemerlang. Hal ini bisa kita lihat dari bangunan sekolah dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi difasilitasi secara lengkap dan modern.
Hal tersebut bisa kita baca dari literasi Islam, di masa Khilafah tegak bangunan sekolah dan fasilitas pendidikan lainnya begitu lengkap, kokoh serta nyaman. Kota-kota seperti Cordova, Baghdad dan Damaskus bukti nyata Khilafah membiayai dan menyediakan fasilitas sekolah. Karena negara tidak akan membiarkan rakyatnya mencari dana sendiri untuk membiayai
infrastruktur pendidikan di sekolahnya. Karena jika sekolah ataupun pondok pesantren melakukan hal tersebut tentu akan terpecah konsentrasinya dalam mendidik santri ataupun anak didiknya.
Adapun untuk pembiayaan infrastruktur pendidikan negara akan mengambil dari baitulmal bukan pajak seperti di sistem kapitalis saat ini.
Oleh karenanya, jika semua sadar akan sistem Islam yang mampu menyelesaikan permasalahan pendidikan wabilkhusus masalah infrastruktur bangunan pendidikan tentu peristiwa ambruknya gedung-gedung sekolah tentu tidak akan terjadi. Bukan hanya di kalangan pondok pesantren tapi di seluruh jenjang pendidikan baik negeri maupun swasta. Karena negara hadir sebagai pengayom, penyelamat untuk rakyatnya. Pada akhirnya bangunan pesantren tidak akan ada lagi yg rapuh apalagi roboh.
Wallahualam bissawab. []
Posting Komentar