Oleh Heni Ummu Faiz
                   Ibu Pemerhati Umat


KLB dalam program MBG terus bergulir di berbagai wilayah seperti yang terjadi di kota Bandung ratusan orang keracunan usai menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis. 

Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mencatat sekitar keracunan MBG 31 Oktober 2025 mencapai 16.109 orang, jumlah ini adalah angka yang sangat besar. Dengan catatan Oktober menjadi bulan dengan jumlah tertinggi korban 6238 orang (NU.online, 4/11/2025).

Terjadinya kasus keracunan di Bandung Barat diduga 75% karena kualitas air yang buruk hal ini diungkapkan oleh Dadan saat Rapat Koordinasi SPPG dan Mitra MBG di Hotel Mansion Pine, Kota Baru Parahyangan, Padalarang, Sabtu(BANGBARA.COM,1/11/2025).


Fenomena ini membuat kita bertanya apa saja penyebab terjadinya KLB keracunan MBG? 

1. Kontaminasi mikrobiologis ( bakteri, virus, jamur) 
2. Toksin alami atau kimia dalam bahan pangan
3. Pemilihan bahan pangan yang kurang aman
4. Proses pengolahan dan penyimpanan yang tidak higienis
5. Distribusi dan waktu penyajian yang panjang atau tidak tepat
6. Kapasitas dan skala produksi besar tanpa kontrol mutu
7. Pengawasan, manajemen standar, dan SDM yang kurang memandai. 

Banyaknya kasus keracunan program MBG telah memicu kekhawatiran para orang tua di seluruh wilayah Indonesia. Karena mereka takut anaknya menjadi korban. Akibatnya para orang tua wabil khusus para ibu mengusulkan  agar program ini dihentikan. Mirisnya sikap pemerintah dan  penjabatnya  sibuk saling menyalahkan dan mencari kambing hitam. Sekalipun permintaan maaf sudah dilakukan oleh Mensesneg Prasetyo Hadi pada tanggal 20 September 2025 bahwa terjadinya peristiwa keracunan bukanlah sesuatu yang diharapkan. Namun, masyarakat tidak melihat bukti konkret adanya langkah agar peristiwa ini tidak terus terjadi. Karena hingga saat ini terus terjadi. 

Bisa ditelaah  kasus keracunan dari MBG dan terus terjadi karena adanya asas manfaat dari penerapan kebijakan yang syarat kepentingan seperti keuntungan usaha dan keuntungan pamor penguasa yang terlanjur menjadikan program utama saat kampanye. 
Tak heran jika kemudian program ini terus berlanjut sekalipun korban berjatuhan. Asas manfaat yang dijadikan sandaran mengakibatkan tidak mempedulikan bagaimana kondisi generasi ini. Jika memang peduli tentu program ini seharusnya dihentikan dan dialihkan ke hal yang penting seperti untuk kesejahteraan guru honorer, sarana pendidikan atau yang lainnya. 

MBG bukanlah Solusi 

Sebagaimana kita pahami adanya program ini adalah untuk mengatasi gizi buruk. Padahal sesungguhnya untuk pemenuhan gizi adalah negara menjamin kebutuhan hidup sehari-hari. Selain itu, menciptakan lapangan kerja yang luas dengan gaji yang layak sehingga mampu memenuhi gizi keluarganya. Namun faktanya sistem yang digunakan negara ini berpijak pada sistem kapitalis sekuler. Negara hanya fokus pada pencitraan bukan fokus pada pemenuhan kebutuhan rakyat. Bahkan negara tunduk terhadap para kapitalis yang mengendalikan kebijakan penguasa. 

Islam kafah Mampu Menuntaskan Gizi Buruk Rakyat

Sistem Islam merupakan sistem yang paripurna termasuk penuntasan gizi buruk masyarakat. Mekanisme Islam sangatlah lengkap di antaranya:

a. Terjaminnya kebutuhan pokok per individu masyarakat secara layak. 
b. Negara membuka lapangan kerja seluas-luasnya bagi rakyatnya. 
C. Politik APBN syariah yang menyediakan fasilitas pendidikan dan MBG nya. 
d. Penguasa yang adil dan tidak melahirkan penguasa populis. 

Walhasil hanya dalam sistem Islam kafah saja yang mampu menuntaskan kasus MBG. Tidak ada lagi keracunan apalagi penguasa yang abai. 

Wallahualam bissawab. []

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama