Oleh Siti Hanifah
                     Aktivis Dakwah 


Tak henti-hentinya kasus bunuh diri terus bergulir. Sangat menyayat hati, yang mirisnya lagi kasus bunuh diri ini semakin meningkat di kalangan anak sekolah. Menambah catatan panjang kelamnya pendidikan hari ini. 

Akhir-akhir ini di bulan Oktober tercatat banyak kasus bunuh diri di kalangan pelajar. Salah satunya terjadi di Jawa Barat. Dalam sepekan terjadi dua siswa bunuh diri yang terjadi di Kabupaten Sukabumi dan Cianjur. Di Kabupaten Sukabumi siswi dengan inisial AK (14 tahun) kelas 8 yang tewas menggantungkan diri di kusen pintu pada Selasa (28/10/25) malam di Kecamatan Cikembar. 

Beralih dari Jawa Barat ke Kecamatan Berangin, Sawahlunto, Sumatra Barat. Dua siswa SMP di Sawahlunto tewas bunuh diri dalam rentang bulan Oktober. Berdasarkan hasil penyelidikan sementara oleh kepolisian, tidak ada kasus perundungan penyebab siswa SMP di Sawahlunto dalam mengakhiri hidupnya. BE siswa kela VIII SMP 7 Sawahlunto dan ANJ Siswa kelas IX SMP 2 Sawahlunto. 
Dua kejadian dalam waktu satu bulan adalah hal serius.  Ditemukan data terbaru yang diungkapkan oleh OpenAI lebih dari satu juta pengguna ChatGPT membahas percakapan yang mengarahkan kepada rencana bunuh diri. Mengutip ulasan Tech Crunch pada Senin, 27 Oktober 2025 sekitar 0,15 persen pengguna aktif mingguan ChatGPT membahas percakapan yang mengarah kepada niat bunuh diri. 

Persentase yang serupa juga mengungkapkan peningkatan keterikatan emosional terhadap AI. Perusahaan ini digugat oleh orang tua seorang remaja 16 tahun yang diduga mengutarakan rencana bunuh diri kepada ChatGPT, sebelum meninggal dunia. (Tempo.co 30/10/25) 

Angka Bunuh Diri Semakin Meningkat

Perlu dicermati dan tidak bisa dianggap biasa. fakta yang terjadi tidak semua bunuh diri terjadi karena kasus perundungan, yang sudah dipaparkan dalam fakta di atas menggambarkan bahwa rapuhnya kepribadian remaja menyebabkan mereka mengakhiri hidup, sungguh sangat miris. Begitu banyak kejadian berulang seakan tidak ada henti-hentinya.

Kerapuhan yang tergambar mencerminkan lemahnya dasar akidah anak-anak hari ini. Pendidikan sekuler yang terpaku pada nilai akademis dan prestasi fisik semakin menjauhkan pelajar dari pemahaman agama yang menyeluruh. 

Kita lihat hari ini, bahkan pengajaran agama hanya ada satu kali dalam sepekan yang itu pun hanya penyampaian-penyampaian singkat tanpa makna yang berarti. Anak dianggap dewasa ketika umur 18 tahun, paradigma ini juga sangat berpengaruh bahkan anak yang sudah balig masih diperlakukan sebagaimana anak-anak dan tidak dididik untuk menyempurnakan akalnya.

Sistem Kapitalis Sekuler adalah Penyebabnya

Bunuh diri merupakan puncak dari gangguan kesehatan mental. Gangguan mental dapat terjadi dari banyak faktor. Salah satunya faktor keluarga, perceraian orang tua, tuntutan gaya hidup, kesulitan ekonomi, dan sebagainya. Hal ini disebabkan karena diterapkannya sistem kapitalisme yang dibuat oleh manusia, bukan dari wahyu Allah. 

Kemudian yang tak kalah dari pengaruh kerapuhan mental pelajar hari ini adalah paparan media sosial yang terlalu bebas diakses, kapan pun, di mana pun, dan itu sangat berbahaya. Bisa menjadi bumerang, mereka bisa saja terinspirasi dalam melakukan sesuatu yang menurut mereka keren.

Islam adalah Solusi yang Menyeluruh

Dalam Islam, dasar pendidikan keluarga, sekolah, dan seluruh jenjang pendidikan adalah akidah, sehingga anak memiliki kekuatan untuk bertahan dalam menghadapi tekanan. Tujuan dari pendidikan Islam adalah membentuk pola pikir dan pola sikap yang islami sehingga pada diri siswa terbentuk kepribadian Islam.

Dalam Islam, ketika balig anak juga diarahkan untuk akil sehingga pendidikan anak sebelum balig adalah pendidikan yang mendewasakan dan mematangkan kepribadian Islamnya. Hal ini dibuktikan oleh sejarah Islam, begitu banyaknya seorang anak berumur kisaran pelajar berani untuk terjun ke medan perang pada waktu itu, bahkan yang sudah mutqin dalam berbagai ilmu hafalan beribu-ribu hadis dan sebagainya. 

Apakah bisa anak remaja hari ini memiliki mental yang luar biasa seperti sejarah dahulu? Tentunya perlu penerapan Islam secara menyeluruh dalam tingkat negara. Dalam Islam ketika anak balig diarahkan untuk akil sehingga pendidikan anak balig adalah pendidikan yang mendewasakan dan mematangkan kepribadian Islamnya. 

Dengan hal itu tak aneh bila banyak ilmuwan cilik yang terlahir karena sistem yang mendukung dalam menciptakan atmosfer anak memiliki pribadi yang kuat dalam kepribadian Islam dan penguasaan kompetensi ilmu.

Penerapan Islam secara kafah juga mencegah gangguan mental, sekaligus menjadi solusi persoalan ini secara tuntas, karena Islam menjamin aspek penting dalam kehidupan yaitu sandang, pangan, papan, pendidikan, dan kesehatan. Akan mudah terbentuk keluarga yang harmonis, kebutuhan pokok terpenuhi, juga arah hidup yang sesuai tujuan penciptaan.
 
Contohnya, pada masa keemasan Islam, ada seorang bapak yang berpura-pura sakit dan meminta dirawat di rumah sakit, tetapi bapak tersebut tidak serta-merta diusir ia tetap dilayani selayaknya tamu. Kemudian bagaimana dengan keluarganya sedangkan ia adalah kepala rumah tangga? 

Negaralah yang menafkahi keluarga tersebut sampai bapak ini keluar dari rumah sakit. Negara ikut andil dalam keharmonisan keluarga. Kurikulum pendidikan Khilafah memadukan penguatan kepribadian islami (karakter) dengan penguasaan kompetensi ilmu. Sehingga murid mampu menyikapi berbagai persoalan kehidupan dengan cara yang syar’i. Sebab, dalam Islam bunuh diri merupakan bentuk keputusasaan seorang hamba, hukum bunuh diri dalam Islam adalah haram.

Wallahualam bissawwab. []

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama