Oleh Shinta Putri
(Muslimah Perubah Peradaban)
Konsumsi yang berlebihan dalam penggunaan media sosial dapat menimbulkan dampak negatif pada kesehatan otak, yang belakangan dikenal dengan istilah 'brain rot'. Sering menonton Short video atau video pendek di media sosial seperti TikTok dan Reels kini menjadi hiburan utama banyak orang.
Hal ini menyebabkan munculnya istilah baru yang biasa disebut Brain Rot untuk menggambarkan menurunnya fokus, konsentrasi, serta kemampuan berpikir akibat terlalu sering mengonsumsi konten cepat dan serba instan. Anak-anak dan remaja disebut sebagai kelompok dengan risiko tertinggi. (Detik Sumut, 12/12/2025)
Fenomena banyaknya generasi muda saat ini yang terpapar konten media yang tidak berfaedah hanya sekedar konten hiburan yang tidak memberikan pembelajaran, akhirnya banyak data yang menunjukkan adanya penurunan kemampuan berpikir kritis dan fungsi kognitif pada generasi muda, terkhusus Gen Z akibat pola konsumsi konten digital berlebih.
Pemakaian media sosial yang melebihi batas waktu yang normal dan paparan konten yang lebih cenderung merusak pikiran generasi, yang bisa menyebabkan generasi hilang konsentrasi akhirnya menjadikan mereka lemah dalam berpikir dan kecerdasannya pun menurun. Karena saat ini semua anak remaja dan dewasa pengguna media sosial yang aktif, tidak ada orang yang tidak punya handphone.
Di era modern saat ini handphone sebagai barang yang wajib dimiliki oleh manusia, di sekolah pun juga mengerjakan tugas menggunakan handphone, sehingga tidak heran jika masalah yang ditimbulkan dari penggunan handphone terus bermunculan. Karena semua memliki handphone dan mudah untuk mengaksesnya.
Ini semua bisa berakibat fatal pada generasi kita, negeri ini didominasi oleh kalangan gen Z, sangat disayangkan jika generasinya hanya berpikir pada hal-hal yang remeh. Kedangkalan berpikir generasi muda adalah desain algoritma digital di bawah payung sistem kapitalisme sekuler. Sistem ini yang memimpin dunia, mereka bisa dengan mudah mengatur, untuk mau diarahkan kemana algoritma digital supaya banyak orang terpengaruh dengan arus yang akan mereka propagandakan.
Algoritma digital bisa mempengaruhi cara pandang orang ke arah yang akan mereka kehendaki meskipun akan menimbulkan masalah atau bahkan kematian sekalipun. Hal ini tentunya akan menciptakan habitat yang memuja kecepatan di atas kebenaran, dan hiburan di atas tsaqofah islam.
Akibatnya, generasi muda hanya akan menjadi "objek" pasar, bukan "subjek" peradaban. Sehingga generasi dilemahkan supaya tidak bangkit memikirkan urusan agamanya yaitu Islam, padahal generasi muda di negeri ini yang mayoritas Islam tentunya mempunyai potensi yang sangat luar biasa untuk bisa membuat agama dan negeri ini bangkit.
Untuk itu sangat dibutuhkan keberanian berhenti sejenak dari arus viralitas untuk merekonstruksi tsaqofah. Tsaqofah yang seharusnya diviralkan adalah tsaqofah Islam yang bisa membangun pemikiran generasi dan peradaban manusia menjadi lebih baik.
Bukan seperti terjadi saat ini meluaskan konten-konten yang tidak berguna seperti judi online, pinjaman online, bullying, pornografi dan lain-lain menyebabkan generasi saat ini terpapar perilaku yang rusak dan merusak. Tak heran setiap hari kita jumpai di berita kasus-kasus generasi melakukan tindak kejahatan, ternyata ditelusuri semua akibat pengaruh dari konten di media sosial.
Teknologi digital saat ini yang seharusnya digunakan untuk sumber informasi dan kemudahan sarana komunikasi, namun menjadi sumber bencana. Salah satunya fenomena brain rot tadi. Untuk itu algoritma digital yang menguasai media sosial sebenarnya meresahkan umat, karena mereka memang sengaja mendesain kerusakan mental dan fisik generasi Muslim, supaya tidak peduli dengan negara dan agamanya.
Jika dibandingkan dengan cara pandang Islam yang tidak menolak teknologi, namun Islam menempatkan batasan syariat dibalik teknologi tersebut. Generasi muda harus mampu mengendalikan perangkat digitalnya untuk kepentingan islam dan umatnya, bukan justru dikendalikan olehnya. Sehingga manusia itu menjadi subjek yang mengendalikan bukan menjadi objek.
Maka dari itu dibutuhkan upaya pembinaan literasi ideologis yang harus dilakukan secara sistematis di keluarga, sekolah, masyarakat, dan akan jauh lebih efektif melalui negara dengan seperangkat aturan dan kekuasaan yang dimilikinya. Karena negara punya perangkat yang lebih canggih untuk bisa mengkontrol dan menghindari penyalahgunaan teknologi digital. Karena kemajuan teknologi dengan digital menjadi sarana dan prasarana manusia untuk memudahkan aktivitas sehari-hari.
Untuk mencapai tujuan yang hakiki kearah kebangkitan Islam maka dibutuhkan perjuangan untuk mewujudkan Islam sebagai mabda yang memimpin dunia bukan kapitalisme. Kearah tujuan itu pertama yang dilakukan adalah dengan pembinaan oleh parpol Islam ideologis kepada umat Islam yang mau dengan kesadaran bangkit dan berjuang untuk mengembalikan posisi Islam menjadi hukum syari'at umat, kebangkitan berpikir saja tidak cukup kalau tidak mengambil ide yg sahih.
Maka dengan mengikuti metode dakwah Rasulullah Saw untuk menegakan kembali kepimpinan Islam dengan nama Khilafah yang bisa menyelamatkan generasi dari buruknya algoritma digital yang dikendalikan kafir barat dengan mabda kapitalisme, karena bukan hanya sekedar melemahkan pemikiran dalam belajar tapi juga bisa menjauhkan generasi dari ketaatan dan ketaqwaan kepadan Tuhannya. Solusi terbaik dan benar adalah dengan terwujudnya khilafah Rasyidah ala manhaj kenabian.
Wallahualam bissawwab.[]
Posting Komentar