Oleh Siti Hanifah
                          Mahasiswa


Algoritma konten ketakutan generasi muda dengan bayang-bayang menikah semakin ramai di media sosial apalagi dengan maraknya tagline marriage is scary membuat generasi muda hari ini tak mau ambil resiko lebih. Banyak generasi muda yang memilih kestabilan ekonomi lebih penting ketimbang segera menikah. Karena melihat kenyataan yang digambarkan dalam konten-konten singkat. Apalagi dengan kenyataan hari ini  biaya hidup makin mahal, pekerjaan sulit didapat, mulai dari kebutuhan pokok, rumah yang harganya tak main-main, biaya pangan yang semakin melonjak. 

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada 2024, sekitar 69,75% pemuda Indonesia (usia 16-30tahun) masih berstatus belum menikah, angka yang naik dari sekitar55,79% di 2015.

Survei yang dilakukan oleh Forum Generasi Berencana (GenRe) tahun 2024 menunjukkan bahwa di kalangan pemuda usia 21-24 tahun, hanya sekitar 26% yang menyatakan tidak takut menikah, artinya mayoritas menyatakan ragu atau takut.
(Kompasiana.com,19/11/25)

Tak heran banyak dari mereka yang memilih untuk tidak segera menikah.
Narasi marriage is scary makin memperkuat ketakutan menikah. Diantara banyaknya konten anjuran untuk segera menikah, tetapi lebih mudah untuk melahap konten yang kontroversi. Berita perceraian dan perselingkungan lebih lazim di cerna masyarakat ketimbang keharmonisan dalam pernikahan.

Kemudian gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan : menyoroti persoalan mahalnya harga rumah di Jakarta. Pramono mengatakan banyak anak muda takut menikah karena sulit punya rumah. (Metro TV, 10/10/25)

“Persoalan utama di Jakarta ini banyak sekali anak-anak muda yang mau menikah tidak berani karena persoalannya adalah perumahan,” ujar Pramono saat membuka sosialisasi kredit program perumahan yang digelar bersama Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) di Balai Kota Jakarta, Rabu, 10 September 2025.

Namun, alih-alih membantu, pemerintah memberikan solusi tidak menyeluruh yaitu dengan membebani program kredit rumah.

Kapitalisme Biang Masalahnya

Ketakutan ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Ini terjadi karena kenyataan dalam kehidupan sistem hari ini. Tidak memberikan jaminan, bahkan ada embel-embel 'tidak ada yang gratis di dunia ini'. Banyak generasi hari ini yang merasa hopeless akhirnya mengambil keputusan yang menjauhkan mereka dari syariat yang sebenarnya. Sistem kapitalis hari ini berhasil membuat generasi muda ketakutan akan kemiskinan karena menikah dengan biaya hidup yang tinggi, pekerjaan amat sulit dan biaya upah yang rendah.

Kenyataan hari ini  negara hanya sebagai regulator cenderung lepas tangan dalam menjamin kesejahteraan rakyat sehingga beban hidup dipikul masing-masing.Belum lagi ditambah stigma negatif di tengah masyarakat menyelenggarakan pernikahan yang perlu mengeluarkan biaya yang tak murah, menjadi sebab mereka tidak ingin segera menikah. Gaya hidup hedon tumbuh dari pendidikan sekuler dan pengaruh media sosial liberal. Mengacak-ngacak pemikiran generasi muda hari ini. Kemudian tak habis-habisnya rentetan berita perceraian dan semacamnya. Menjadikan pernikahan sebagai beban, bukan sebagai ladang kebaikan dan jalan melanjutkan keturunan.

Solusinya

Negara menjamin kebutuhan dasar rakyat dan membuka lapangan pekerjaan yang luas melalui sistem ekonomi Islam. Negara sebagai penjamin kehidupan umat bukan sebagai regulator sebagaimana sistem kapitalis hari ini. Kekayaan milik umat tapi tidak dengan bencananya. 

Begitupun dengan banyaknya kasus perceraian, pemerintah justru tidak ikut andil dalam penyelesaian persoalan yang terjadi  di tengah masyarakat. 

Pengelolaan sumber daya alam yang di kelola oleh negara bukan oleh asing/swasta, akan menghasilkan kesejahteraan masyarakat dan mampu menekan biaya hidup. Tidak ada lagi istilah seperti kacung di dalam negara sendiri. Dalam negara Islam masyarakat tidak dibiarkan memikul bebannya sendiri, bahkan negara pun menjadi 6 hal pokok seperti : sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan, keamanan. 

Umat dijamin dalam kesejahteraannya tidak akan memikul beban nya masing-masing. Hal ini seperti pada masa kekhalifahan Umar Bin Abdul Aziz bahkan hewan-hewanpun hidupnya terjamin, dalam kekhalifahan beliau tidak ada satupun orang yang mau  menerima zakat karena sudah sejahtera. 

Solusi lainnya adalah menerapkan pendidikan yang berbasis akidah untuk membentuk generasi berkarakter, tidak terjebak hedonisme dan materialisme. Pandangan-pandangan hidup yang menyesatkan generasi muda. Islam akan mengarahkan untuk apa manusia hidup, mereka tau jawabannya dan negara memfasilitasi hal itu. Kemudian penguatan institusi keluarga, dengan mendorong pernikahan sebagai ibadah dan penjaga keturunan. Bukan seperti dalam sistem kapitalis sekuler, masyarakat diracuni dengan pencegahan  pernikahan dini. Sementara perzinaan kian marak terjadi.

Oleh karena itu, sudah saatnya kembali kepada sistem Islam kafah yang menyelesaikan permasalahan secara hakiki. 

 Wallahualam bissawab.

1 Komentar

  1. Akibat dari kemerosotan berfikir umat Islam sehingga semua yg disyariatkan serasa menakutkan. Smoga kita selalu dilindungi oleh Allah dan terus Istiqomah untuk menuntut ilmu Islam dan melanjutkan perjuangannya

    BalasHapus

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama