Oleh Eka Sulistya
(Aktivis Dakwah)
Generasi Islam kaffah tidak lahir dari zona nyaman. Ia tidak tumbuh dari kemapanan yang membuat hati lalai, tidak juga terbentuk dari dakwah yang setengah-setengah. Generasi ini lahir dari kesadaran bahwa Islam bukan sekadar identitas, apalagi tren. Islam adalah jalan hidup yang menuntut totalitas dalam iman, amal, dan perjuangan.
Dakwah tidak hanya berdiri di podium. Ia tidak selalu hadir dalam bentuk ceramah dengan mikrofon dan sorotan. Dakwah adalah keberanian menyampaikan kebenaran dalam setiap ruang kehidupan: di lingkar diskusi kecil, di ruang sekolah, di tempat kerja, bahkan dalam obrolan sederhana sehari-hari. Dakwah pun juga hidup dalam tulisan, sikap, pemikiran, dan cara memandang realitas dengan kacamata Islam. Dakwah pemikiran sering berjalan sunyi, tetapi justru di sanalah suatu pondasi perubahan dibangun dan dibentuk.
Pengorbanan dalam dakwah bukanlah pilihan. Ia adalah konsekuensi dari komitmen terhadap kebenaran. Sejarah Islam mencatat bahwa dakwah selalu dibayar mahal. Rasulullah ﷺ dan para sahabat mengorbankan harta, kenyamanan, bahkan nyawa demi tegaknya Islam. Maka generasi hari ini tidak semestinya berharap jalan yang lebih ringan. Dakwah menuntut kesiapan untuk lelah, disalahpahami, bahkan ditinggalkan.
Kita seringkali ingin hasil yang cepat, ingin diterima, ingin dilihat. Padahal dakwah bukan tentang popularitas, melainkan tentang kesetiaan pada amanah. Pengorbanan waktu, tenaga, dan perasaan adalah bagian dari proses yang memang harus ditempuh. Tidak ada perjuangan yang sia sia, tanpa luka, dan tidak ada perubahan tanpa harga yang dibayar.
Kesabaran atas qadha Allah menjadi pilar tiang penyangga dalam dakwah. Tidak semua kebenaran langsung dapat dimengerti, tidak semua ajakan langsung disambut hangat. Ada fase di tolak, di cibir, bahkan di lawan. Disitulah kesabaran menjadi bukti iman bukan pasrah tanpa usaha, melainkan tetap istiqamah sambil menyerahkan hasil kepada Allah. Seorang dai sadar bahwa tugasnya menyampaikan, bukan memastikan hidayah.
Kontinuitas dalam dakwah pemikiran adalah kewajiban yang tak bisa digantikan amal apa pun. Amal personal sangat mulia, tetapi dakwah pemikiran membangun kesadaran kolektif bagi umat. Tanpa dakwah pemikiran islam, Islam mudah direduksi menjadi ritual individual tanpa arah perubahan. Generasi Islam kaffah tidak puas menjadi baik sendirian; mereka resah ketika umat kehilangan orientasi.
Karena itu, generasi ini terus belajar, membaca realitas, dan menyampaikan Islam secara menyeluruh dan utuh. Bukan Islam yang dipotong agar diterima, bukan pula Islam yang dikompromikan demi kenyamanan. Mereka menyampaikan kebenaran dengan hikmah, namun tetap tegas pada prinsip. Dalam derasnya arus opini dan relativisme, mereka memilih berdiri kokoh meski tak populer.
Dakwah di zaman ini memang semakin menantang. Informasi melimpah, tetapi kebenaran sering dikaburkan. Namun justru di tengah kekacauan itulah generasi Islam kaffah yang dibutuhkan. Generasi yang jernih berpikir dan lurus melangkah. Generasi yang tidak menjadikan ridha manusia sebagai tujuan, melainkan ridha Allah sebagai orientasi perjuangan.
Dakwah memang melelahkan. Pengorbanannya nyata dan panjang. Tetapi dakwah tidak mengenal kata pensiun. Ia tidak berhenti karena lelah, usia, atau keadaan. Dakwah hanya dihentikan oleh kematian. Selama nafas masih berhembus, selama akal masih berpikir, dan iman masih hidup dalam dada, kewajiban itu tetap ada. Kita mungkin bukan orang yang melihat hasilnya, tetapi setiap langkah tetap dicatat. Sebab menjaga Islam tetap hidup adalah tugas mulia, dan Allah tidak pernah menyia-nyiakan satu pun pengorbanan di jalan-Nya.
Tetaplah melangkah kawan. Tetaplah sabar. Teruslah berdakwah dengan penuh kesadaran. Sebab generasi Islam kaffah tidak sedang berjalan menuju popularitas, tetapi menuju ridha Allah. []
Posting Komentar