Oleh Eka Sulistya
(Aktivis Muslimah)
Tepuk Sakinah yang saat ini Viral sering kali menjadi candaan lucu di kalangan pasangan muda. “Berpasangan, berpasangan, berpasangan… tepok gaji tepok gaji… tepok gaji” salah ya. liriknya belum hafal, padahal sudah menikah bertahun-tahun. Tapi sebenarnya, lucu-lucuan begitu ada maknanya yang begitu dalam: mengingatkan bahwa tujuan menikah adalah membangun rumah tangga yang sakinah. Sakinah dulu ya baru mawaddah dan warahmah mengiringi.
Dalam kehidupan sehari-hari, rumah tangga seringkali diuji oleh hal-hal yang sepele. Contohnya token listrik bunyi minta diisi, berbarengan dengan beras habis, sedangkan uang belanja mulai meringis. Padahal tanggal dan bulan masih panjang. Di momen yang seperti itu, banyak pasangan langsung naik tingkat level tensi: mudah marah, mudah tersinggung, mudah menyalahkan. Padahal lebih tenang kalau berhenti sebentar, tarik napas, lalu ingat “tepuk sakinah” dulu. Mengingatkan diri bahwa setiap kesulitan dalam rumah tangga bukan alasan untuk saling menyalahkan. Tetapi menjadi suatu kesempatan untuk saling menguatkan. InsyaaAllah, meski listrik padam dan perut kelaparan, hati tetap tenang tidak padam dan hubungan tidak kelaparan kasih sayang.
Fenomena Tepuk Sakinah yang viral adalah bukti kreativitas zaman ini, KUA pun mengikuti zaman media sosial dengan maksud metode yang lebih ringan, asyik, dan mudah diingat. Biar pasangan itu tahu bahwa tujuan berpasangan bukan hanya sekadar tinggal serumah, tapi membangun ketenangan jiwa. Namun sayangnya, nilai sakinah hari ini semakin sulit ditemukan. Setiap hari kita selalu ada saja video viral: istri sah melaporkan pelakor, suami selingkuh, istri juga selingkuh, rumah tangga hancur dan anak-anak jadi korban. Banyak yang bertanya, kenapa bisa terjadi begini? Kenapa keluarga halal justru kehilangan kenyamanan, kehilangan harmonis sementara banyak orang mencarinya dari hubungan yang haram? Kenapa bisa terjadi dan viral banyak sekali kasus-kasus yang kita temukan?
Masalahnya itu bukan karena kurang hafal Tepuk Sakinahnya. Bukan pula karena kurang lucu, kurang keseruan nya Akar persoalannya lebih dalam: berkurangnya rasa takwa, kurangnya rasa syukur, dan serta pemahaman agama yang kuat. Banyak yang lebih takut kepada pasangan, daripada ketahuan sama Allah. Lebih takut omongan manusia, daripada terhadap hisab di akhirat nanti. Maka sakinah pun hilang perlahan, karena pondasinya tidak lagi kokoh pada ketakwaan.
Sakinah tidak berdiri hanya dengan cinta dan tawa. Ia butuh fondasi iman. Itulah sebabnya, tidak cukup edukasi lucu dari KUA, nasihat pernikahan, atau motivasi viral di media sosial. Yang dibutuhkan adalah lingkungan yang mampu memupuk ketakwaan. Sebuah sistem yang menumbuhkan akidah yang benar dan membentuk rakyat yang takut pada dosa, bukan hanya takut pada masalah rumah tangga. Ketika rakyat beriman, ketika aturan negara mendukung ketakwaan, maka sakinah akan lebih mudah singgah di setiap rumah.
Bagaimana mau sakinah jika baru awal bulan sudah deg-degan memikirkan cicilan? Bagaimana mau sakinah jika suami sulit mendapatkan pekerjaan yang layak? Bagaimana mau sakinah jika nilai-nilai moral diabaikan, aurat tidak dijaga, dan pergaulan bebas dianggap biasa? Ternyata sakinah itu bukan hanya urusan dua hati di dalam sebuah rumah, tetapi juga urusan lingkungan dan negara yang menaungi mereka. Keluarga yang kuat membutuhkan sistem yang kuat, sistem yang menerapkan syariat yang menjaga akhlak, ekonomi, dan serta tatanan sosial.
Sakinah bukan hanya tentang hubungan suami istri yang saling mencintai, tetapi juga tentang ketenangan yang lahir dari hidup sesuai aturan Allah. Ketika negara menegakkan syariat, keadilan ekonomi terjaga, lapangan kerja tersedia, pendidikan bermoral ditegakkan, pergaulan dibatasi dari yang haram, dan keluarga mendapat perlindungan yang seharusnya. Baru di situ sakinah tumbuh: bukan sekadar slogan, bukan sekadar tepuk, tetapi keadaan nyata yang hadir dalam kehidupan.
Pada akhirnya, hidup yang berarti bukan diukur dari apa yang kita punya, tetapi dari apa yang kita beri. Keluarga yang sakinah adalah hadiah terbesar yang bisa diberikan oleh iman dan takwa untuk pasangan, untuk anak, dan untuk masa depan. Bismillah, semoga setiap langkah menuju keluarga sakinah diberkahi oleh Allah.[]
Posting Komentar