Oleh Calma Rui
                  (Aktivis Muslimah)


Kasus kekerasan, bullying, bundir, teror, maupun pembunuhan dilakukan generasi kini menghantui masyarakat. Salah satu kasus yang tak terbayangkan, seorang ibu di Kota Medan ditikam 26 tusukan oleh anak kandungnya sendiri yang berusia 12 tahun. Kapolrestabes Medan Kombes Calvin Simanjuntak menjelaskan, salah satu motif pelaku adalah sakit hati game online dihapus. Anak tersebut juga kerap memainkan game kekerasan menggunakan pisau dan menonton serial anime dengan adegan menggunakan pisau. (Kompas.com 29/12/2025)

Tak hanya itu, kita pun digegerkan dengan teror bom yang dilakukan seorang mahasiswa berusia 23 tahun. Dengan mengirimkan ancaman lewat email ke alamat email sepuluh sekolah di Kota Depok, dengan motif ingin mencemarkan nama baik mantan kekasih yang sudah menolak lamarannya (CNNIndonesia.com 26/12/2025). Ironi sekali ketika game online kekerasan menjadi inspirasi, generasi terpengaruh emosi dan kesehatan mental.

Hegemoni Digital Kapitalis Merusak Generasi

Sesuai dengan penjelasan Syekh Taqiyuddin an Nabhani dalam kitab "Nizhamul Islam" dalam bab "Jalan Menuju Iman", bahwa tingkah laku seseorang sesuai dengan pemahamannya, dan pemahaman sesuai dengan pemikirannya. 

Pemahaman ini bisa di dapati ketika seseorang menggunakan akalnya dengan adanya empat komponen, yaitu fakta, indra, otak, dan pengetahuan sebelumnya atau maklumat tsabiqoh. Pengetahuan sebelumnya didapati dari apa yang dipelajari, dibaca, dan ditonton. Wajar bila generasi terpapar emosi dan kesehantan mental karena pengaruh informasi sebelumnya dari platform digital game yang bebas akses bermuatan kekerasan, pembunuhan dan aksi-aksi kekerasan lainnya.

Platform digital dalam sistem kapitalisme hanya mementingkan keuntungan materi semata. Perusahaan digital mengemas sedemikian rupa platform digital yang mereka buat agar menarik di pasaran tanpa memandang baik dan buruk. Mereka tidak memikirkan dampak negatif yang memengaruhi generasi sehingga menimbulkan rusaknya kesehatan mental. 

Walaupun mereka menyediakan aturan batasan usia, itu hanya bisa dilakukan oleh negara dengan regulasinya. Faktanya negara dengan regulasinya tidak bisa membendung kerusakan akan hegemoni kapitalis dalam ruang digital ini. Sebab, dalam sistem kapitalisme para penguasa bergantung kepada para korporat, sehingga dampak dari platform digital yang dibuat oleh para pengusaha industri digital ini tidak bisa dilawan ataupun diminta pertanggungjawabannya. Penguasa kapitalis kehilangan perannya sebagai penjaga dan pelindung generasi.

Risalah Tuntas Penjaga Generasi

Negara dalam kepemimpinan Islam mampu menjaga dan melindungi generasi karena penguasa dalam islam memiliki peran sebagai raa'in (pelindung) dan junnah (penjaga) rakyatnya. Sebab, setiap kepemimpinan harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Rasulullah saw. bersabda,

الإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Imam (khalifah) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR Bukhari)

Kerusakan generasi dalam Islam dapat dicegah dengan tiga pilar yaitu: pertama, ketakwaan individu. Dalam Islam, negara akan memberikan pendidikan dengan kurikulum Islam berdasarkan akidah Islam. Maka, setiap individu akan memiliki pemahaman yang mengantarkannya pada akidah aqliyah, yaitu keimanan berdasarkan proses berpikir yang benar sehingga mencegahnya berperilaku maksiat yang merusak.

Kedua, adanya kontrol masyarakat. Masyarakat dalam Islam adalah masyarakat yang memiliki pemikiran, perasaan, dan aturan yang sama berlandaskan akidah dan tsaqafah Islam. Maka, masyarakat akan senantiasa mengontrol setiap perilaku generasi agar sesuai dengan syariat Islam sehingga tercegah dari kerusakan.

Ketiga, perlindungan negara. Negara sebagai raa'in (pelindung) dan junnah (penjaga) rakyatnya akan menerapkan sistem politik, ekonomi, pendidikan, pergaulan sosial dan budaya Islam. Maka, negara mengeluarkan aturan tegas berdasarkan syariat Islam untuk melindungi generasi dengan menguasai dan mengatur sedemikian rupa ruang digital agar sesuai dengan syariat Islam dan menutup akses platform-platform digital yang bertentangan dengan Islam.  

Ruang digital akan dimanfaatkan oleh negara sebesar-besarnya untuk menyebarkan dakwah dan budaya Islam dengan pergaulan sosial yang diatur sesuai syariat Islam. Bukan hanya untuk kepentingan ekonomi semata seperti sistem kapitalisme yang berkuasa hari ini. Maka, Islam mampu dan menjadi satu-satunya yang dapat menandingi hegemoni digital Barat yang merusak generasi.
 
Wallahualam bissawab. []

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama