Oleh Eka Sulistya 
                    (Aktivis Muslimah) 


Ramadhan adalah bulan yang selalu dinanti. Bulan penuh rahmat, ampunan, dan pembebas dari api neraka. Namun bagi sebagian saudara kita, Ramadhan kali ini hadir bersama ujian yang tidak ringan. 

Setelah banjir datang tanpa permisi. Air yang awalnya hanya setinggi mata kaki perlahan naik, merendam lantai rumah, menggenangi perabotan, bahkan menghanyutkan kenangan yang tersimpan rapi bertahun-tahun. Di balik derasnya air dan langit yang kelabu, ada hati-hati yang sedang diuji. Ada keluarga yang menatap rumahnya dengan mata berkaca-kaca. Ada ibu yang berusaha tetap tersenyum di hadapan anak-anaknya, meski dalam dada ia menyimpan gundah. Namun justru disitulah, Allah sedang mengajarkan makna sabar dan keteguhan yang sesungguhnya.

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah Ayat 155 :
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ 

"Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar."

Bahwa setiap manusia pasti akan diuji dengan rasa takut, lapar, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Ujian bukan tanda Allah membenci, melainkan bukti bahwa hidup di dunia memang tempat ditempanya iman. Banjir yang melanda mengakibatkan rumah rusak, barang yang hilang—semua itu bukan sekadar peristiwa alam. Ia adalah madrasah kehidupan, Ia adalah ruang belajar untuk menguatkan nafsiyah, mengokohkan hati agar tetap bersandar hanya kepada Allah.

Sabar bukan berarti tidak menangis. Sabar bukan berarti tidak merasa sedih. Sabar adalah kemampuan menahan diri agar tidak berprasangka buruk kepada Allah. Sabar adalah tetap menjaga lisan dari keluhan yang melukai iman. Sabar adalah tetap sujud meski air mata jatuh membasahi sajadah. Di tengah genangan air dan keterbatasan, seorang mukmin belajar berkata, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Semua milik Allah, dan kepada-Nya kita kembali.

Betapa banyak kisah korban banjir yang tetap menjaga shalatnya di pengungsian, tetap menutup auratnya meski dalam kondisi serba darurat bahkan tetap berbagi makanan meski jatah yang diterima tak seberapa. Itulah keteguhan hati yang lahir dari keyakinan. Harta bisa hanyut, rumah bisa rusak, tetapi iman tidak boleh runtuh. Justru di saat seperti inilah kualitas iman terlihat jelas. Apakah kita akan mendekat kepada Allah, atau justru menjauh dan menyalahkan keadaan?

Ramadhan sering disebut sebagai bulan tarbiyah atau pendidikan jiwa. Namun sesungguhnya, setiap musibah juga adalah tarbiyah. Banjir mengajarkan kita tentang kefanaan dunia. Betapa rapuhnya bangunan yang kita banggakan. Betapa mudahnya Allah membalikkan keadaan. Hari ini kita merasa aman dan berkecukupan, esok bisa jadi kita berada di tenda pengungsian. Maka ujian ini seakan menegur dengan lembut: jangan terlalu melekat pada dunia, karena ia bisa pergi dalam sekejap.

Keteguhan hati lahir dari tauhid yang kuat. Ketika seseorang benar-benar yakin bahwa segala sesuatu terjadi atas izin Allah, maka hatinya lebih mudah menerima. Ia percaya bahwa tidak ada satu pun musibah yang sia-sia. Pasti ada hikmah di baliknya. Bisa jadi Allah ingin menggugurkan dosa-dosa kita. Bisa jadi Allah ingin mengangkat derajat kita. Bisa jadi Allah ingin melembutkan hati yang selama ini keras oleh kesibukan dunia.

Bagi yang tidak terkena banjir, peristiwa ini pun menjadi pelajaran. Jangan hanya menjadi penonton yang berkomentar. Jadilah saudara yang peduli. Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa kaum mukmin itu seperti satu tubuh; jika satu bagian sakit, bagian lain ikut merasakan. Maka ulurkan tangan, kirimkan doa, sisihkan rezeki. Bisa jadi bantuan kecil yang kita berikan menjadi sebab datangnya pertolongan Allah kepada kita kelak.

Ujian banjir juga mengajarkan arti syukur. Saat listrik padam dan air bersih sulit didapat, kita baru sadar betapa berharganya nikmat yang selama ini dianggap biasa. Saat harus tidur berdesakan di tempat pengungsian, kita teringat betapa nyamannya kasur di rumah. Musibah membuat kita berhenti sejenak, merenung, dan menyadari bahwa setiap nikmat adalah karunia yang tak ternilai.

Belajar sabar dan teguh dari ujian banjir berarti belajar mengokohkan hati dalam segala keadaan. Ketika lapang, kita bersyukur. Ketika sempit, kita bersabar. Keduanya sama-sama ibadah. Keduanya sama-sama jalan menuju ridha Allah. Jangan biarkan musibah membuat kita kehilangan harapan. Karena setelah kesulitan pasti ada kemudahan. Janji Allah itu pasti.

Hari ini mungkin air masih menggenang, lumpur masih menempel di dinding rumah, dan kelelahan masih terasa. Namun yakinlah, pertolongan Allah lebih dekat dari yang kita kira. Setiap air mata yang jatuh karena sabar akan dibalas dengan pahala. Setiap langkah yang diayunkan untuk bangkit kembali akan dicatat sebagai amal.

Semoga dari ujian banjir ini lahir pribadi-pribadi yang lebih kuat imannya, lebih lembut hatinya, dan lebih kokoh tauhidnya. Karena sejatinya, bukan banjir yang menenggelamkan manusia, tetapi hati yang jauh dari Allah. Selama hati tetap terikat kepada Allah, maka seberapa pun derasnya ujian akan tetap teguh berdiri.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama