Oleh Rosmita 
                       Aktivis Dakwah 


Sunyi yang paling menyakitkan bukan sunyi di ruang kosong. Tapi sunyi di bibir seorang anak yang dulu cerewet, kini tak lagi bisa bicara. Itulah yang sedang terjadi di Gaza.

Satu Juta Anak, Satu Juta Luka

Psikoterapis anak dari Norwegia, Katrin Glatz Brubakk, menyampaikan kepada BBC bahwa setiap anak di Gaza mengalami trauma. Lebih dari satu juta anak hidup dalam trauma parah.

Salah satu dampak yang paling pilu adalah anak-anak Gaza mendadak kehilangan kemampuan berbicara. Mereka memilih diam. Bukan karena tidak ingin bicara, tapi karena suara mereka patah bersama rumah, sekolah, dan orang-orang yang mereka cintai. (BBC.com, 29-5-2026)

Ini bukan sedih biasa. Ini derita sunyi yang tercabik luka.

Luka Itu Punya Nama Pelaku

Sunyi anak-anak Gaza tidak jatuh dari langit. Ia adalah akibat dari kejahatan entitas zionis. Serangan yang terus-menerus, pembunuhan, penghancuran rumah sakit, sekolah, dan tempat tinggal, merenggut rasa aman anak-anak. Ketika dunia seorang anak runtuh tiap hari, lisan adalah hal pertama yang mati.

Ini bukan kejahatan biasa, ini adalah skenario genosida. Yang ditarget bukan hanya tubuh, tapi juga fisik dan mental. Membungkam anak-anak berarti membungkam masa depan satu bangsa. Jika generasi berikutnya tumbuh tanpa suara, maka perlawanan pun ikut mati.

Sedangkan dunia gagal bertindak. Resolusi PBB, kutukan diplomatik, dan sedikit bantuan kemanusiaan tidak menghentikan bom. Sementara itu, sebagian penguasa muslim justru memilih normalisasi dan pengkhianatan terhadap perjuangan Palestina.

Umat Islam kehilangan perisai. Sejak tiada Khilafah Islam, tidak ada lagi institusi politik yang menyatukan kekuatan militer, ekonomi, dan hukum umat untuk menjadi pelindung darah kaum muslimin. Gaza dibiarkan bertarung sendirian, tanpa ada yang benar-benar berjuang membebaskan mereka.

Obatnya Bukan Hanya Terapi, Tapi Kemerdekaan

Maka solusi untuk mengobati anak-anak Gaza tidak cukup hanya diterapi. Selama penjajahan masih ada, trauma baru akan lahir setiap malam.

Derita anak-anak Gaza harus diakhiri dengan pembebasan. Anak butuh sekolah yang tidak dibom, langit yang tidak bising drone, dan tidur tanpa suara ledakan. Itu hanya mungkin jika tanah Palestina bebas dari penjajahan Israel.

Kejahatan penjajahan harus dilawan dengan jihad fii sabilillah. Dalam Islam, membela nyawa, kehormatan, dan tanah kaum yang tertindas adalah kewajiban. Untuk menjalankan kewajiban kolektif ini dibutuhkan institusi yang memiliki tentara, komando, dan mandat politik Khilafah. Hanya institusi inilah yang mampu mengirimkan pasukannya untuk membebaskan Palestina.

Namun, hal ini butuh kesadaran umat sebagai syarat. Pembebasan Palestina tidak akan lahir dari konferensi. Ia lahir saat kaum muslimin sadar bahwa persatuan sejati hanya ada saat berada di bawah satu kepemimpinan yang menegakkan syariat, yaitu Khilafah. Dari situlah kekuatan untuk membebaskan Al-Aqsa dan menyatukan kaum muslimin seluruh dunia muncul.

Khalifah adalah perisai yang akan melindungi harta, darah dan kehormatan kaum muslimin. Maka sudah pasti khalifah dan bala tentaranya akan datang untuk membebaskan Palestina dari penjajahan zionis Israel. Sebagaimana hadis Nabi:

"Sesungguhnya seorang imam (Khalifah) adalah perisai; orang-orang akan berperang di belakangnya dan menjadikannya pelindung." (HR. Bukhari Muslim)

Kembalikan Suara Mereka

Satu juta anak trauma. Ribuan anak kehilangan kata. Selama kita masih bisa bicara, maka bicaralah untuk mereka. Selama kita masih bisa menulis, maka tulislah untuk mereka. Selama kita masih punya pilihan, maka pilihlah jalan yang mengembalikan suara mereka yaitu jalan pembebasan.

Karena setiap hari seorang anak Gaza tetap diam, itu adalah pertanyaan untuk kita semua, sampai kapan?

Wallahualam bissawab. []

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama