Oleh Rosmita
Aktivis Dakwah Islam
Setiap tanggal 17 Agustus, suasana negeri ini selalu berbeda. Jalanan dihias merah putih. Anak-anak sekolah berlatih baris-berbaris. Kantor-kantor mengadakan lomba. Dari Sabang sampai Merauke, rasa nasionalisme terasa menggelora.
Tahun 2026 ini, Indonesia genap berusia 81 tahun. Usia yang tidak muda lagi untuk sebuah bangsa. Tapi di tengah kemeriahan itu, ada pertanyaan penting yang harus kita ajukan sebagai Muslim: "Sudahkah kita benar-benar merdeka?"
Karena kemerdekaan bukan hanya soal terbebas dari penjajahan fisik. Kemerdekaan yang hakiki adalah terbebas dari segala bentuk penghambaan kepada selain Allah SWT.
Mandiri atau Masih Bergantung?
Secara fisik kita sudah merdeka sejak 1945. Tapi mari kita jujur melihat kondisi hari ini.
Dari sisi ekonomi, ketergantungan masih sangat tinggi. Bank Indonesia mencatat posisi utang luar negeri Indonesia pada Februari 2026 mencapai US$ 437,9 miliar. Angka yang sangat besar. Sementara itu, data BPS menunjukkan nilai impor Indonesia pada periode Januari–Mei 2026 mencapai US$ 111,33 miliar, naik 15,24% dibanding tahun sebelumnya.
Investasi juga masih didominasi asing. Sepanjang 2025, realisasi Penanaman Modal Asing mencapai Rp 900,9 triliun atau 46,6% dari total investasi. Artinya hampir separuh penggerak ekonomi kita dikendalikan pihak luar.
Bagaimana dengan kesejahteraan rakyat? Pertumbuhan ekonomi 2025 memang naik jadi 5,11%. Tapi BPS juga mencatat persentase penduduk miskin September 2025 masih 8,25%. Tingkat Pengangguran Terbuka Februari 2026 ada di 4,68%.
Ironisnya, di saat yang sama sumber daya alam kita melimpah. Minyak, gas, nikel, batubara, emas, hutan. Tapi pengelolaan dan nikmatnya belum sepenuhnya kembali ke rakyat. Mayoritas justru dikuasai swasta dan asing. Padahal 85% pendapatan APBN kita masih bertumpu pada pajak rakyat.
Dengan potret seperti ini, wajarkah kita menyebut diri bangsa yang mandiri? Atau kita hanya berganti penjajah, dari penjajahan fisik menjadi penjajahan sistem dan ekonomi?
Penjajahan Ideologi Kapitalisme
Inilah yang disebut oleh para pemikir Islam sebagai Penjajahan Kapitalisme. Sebuah sistem yang lahir dari asas sekularisme, yaitu pemisahan agama dari kehidupan.
Dalam sistem ini, yang jadi standar baik-buruk bukan wahyu, tapi untung-rugi dan kepentingan manusia. SDA yang seharusnya untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, justru diobral ke swasta dan asing atas nama iklim investasi. Utang ribawi jadi andalan pembangunan. Impor lebih mudah daripada menguatkan produksi dalam negeri.
Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab Nizhamul Islam menjelaskan, problem utama umat hari ini bukan hanya pada individu yang rusak atau kebijakan yang salah. Problem utamanya adalah asas kehidupan.
Jika asasnya sekuler, maka seluruh sistem yang dibangun akan mengikuti. Hukum, ekonomi, politik, pendidikan, semua akan melahirkan kezaliman baru. Sebaliknya, jika asasnya akidah Islam, maka seluruh aturan akan memancar dari sana dan mewujudkan keadilan.
Makna Kemerdekaan Hakiki Menurut Islam
Lalu seperti apa kemerdekaan yang sebenarnya? Islam menjawab dengan sangat jelas.
Manusia merdeka adalah manusia yang hanya menghambakan diri kepada Allah SWT. Allah berfirman: "Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Allah juga menegaskan: "Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak-Nya." (QS. Al-A’raf: 54)
Serta "Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah." (QS. Yusuf: 40)
Artinya, ketika kita menyerahkan urusan menentukan halal-haram, aturan ekonomi, politik, dan sosial kepada manusia secara mutlak, maka saat itu kita sedang keluar dari hakikat penghambaan kepada Allah.
Sejarah mencatat bagaimana para sahabat memahami ini. Ketika Rib'i bin Amir ra ditanya panglima Persia Rustum "untuk apa kalian datang?", beliau menjawab: "Allah telah mengutus kami untuk mengeluarkan siapa saja yang Dia kehendaki dari penghambaan kepada sesama hamba menuju penghambaan hanya kepada Allah."
Inilah misi Islam. Membebaskan manusia dari perbudakan sistem, dari penyembahan materi, dari tunduk pada aturan zalim, menuju tunduk hanya pada aturan Allah Yang Mahaadil.
Jalan Menuju Kemerdekaan Ideologis
Lalu bagaimana mewujudkannya? Tentu tidak cukup hanya dengan ceramah dan perbaikan moral individu.
Yang dibutuhkan adalah perubahan asas dan sistem kehidupan. Dari sekularisme ke akidah Islam. Dari Kapitalisme ke ideologi Islam.
Berikut poin-poinnya:
Pertama, sistem ekonomi harus sesuai syariah. Negara mengelola SDA untuk rakyat, bukan diobral. Tidak ada riba, tidak ada eksploitasi.
Kedua, sistem pendidikan harus membangun kepribadian Islam. Anak-anak diajarkan akidah, syariah, dan sejarah peradaban Islam.
Ketiga, sistem hukum dan pemerintahan harus menerapkan syariah secara kaaffah.
Dalam fikih siyasah Islam, institusi yang menjalankan ini disebut Khilafah. Bukan romantisme masa lalu, tapi institusi politik yang berfungsi menerapkan hukum Islam dan mengurus urusan umat. Menurut Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, ini satu-satunya metode syar'i untuk menerapkan Islam secara menyeluruh.
Tanpa negara yang menerapkan Islam, maka hukum-hukum Islam hanya akan jadi wacana. Tidak akan pernah diterapkan di bidang ekonomi, peradilan, politik luar negeri, dan pengelolaan umat.
Palestina dan Tanggung Jawab Kita
Peringatan kemerdekaan juga harus menyadarkan kita pada kondisi umat saat ini. Palestina masih berdarah. Data Kemenkes Palestina per 5 Agustus 2026 mencatat 1.254 orang syahid dan 174.231 orang luka sejak gencatan senjata Oktober lalu.
Timur Tengah masih panas. Iran, Houthi, Saudi, Turki, Pakistan, semua sedang membangun poros baru. Sementara AS terus mendorong normalisasi dengan Zionis. Di tengah itu, umat Islam dan tempat suci masih terus dizalimi.
Allah mengingatkan kita: "Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa apabila dikatakan kepada kalian, ‘Berangkatlah untuk berperang di jalan Allah,’ kalian merasa berat dan cenderung tetap tinggal di tempat?" (QS. At-Taubah: 38)
Ayat ini tamparan bagi kita. Sampai kapan kita hanya jadi penonton?
Dari Bendera ke Sistem
Alhasil, peringatan 81 tahun kemerdekaan harus kita maknai lebih dalam. Mengibarkan bendera dan lomba 17-an itu baik. Itu bentuk syukur. Tapi jangan berhenti di situ.
Kemerdekaan hakiki akan terwujud ketika umat Islam kembali menjadikan Islam sebagai mabda', sebagai ideologi dan sistem kehidupan yang diterapkan secara kaaffah.
Dari menyembah dunia menuju menyembah Allah.
Dari aturan manusia menuju aturan Allah.
Dari sistem Kapitalisme menuju sistem Islam.
Allah juga berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan" (QS. Al-Baqarah: 208)
Semoga Allah segera memuliakan umat ini dengan kemerdekaan yang hakiki. Aamiin.
Wallahualam bissawab. []
Posting Komentar