Oleh Heni Ummu Faiz
                 Ibu Pemerhati Umat


Generasi emas lahir dari generasi yang jujur, tangguh dan berakhlak mulia. Namun apa jadinya jika untuk menggapai suatu tujuan dimulai dengan kecurangan. 

Terjadinya kecurangan dalam Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Nasional Berbasis Tes (SNBT) 2025, telah mengguncang Indonesia.  Meskipun Ketua Penanggung Jawab Panitia SNPMB 2025, Eduart Wolok, telah menjelaskan bahwa kebocoran soal bukan berasal dari panitia, melainkan dari tindakan curang peserta yang menggunakan alat elektronik terlarang. (Kompas.tv, 26/04/2025)

Dikutip dari detik.com, diungkapkan bahwa terjadinya perjokian terjadinya karena motif ekonomi. Keuntungan yang diraup sekitar sekitar Rp 30-50 juta.  Hal ini disampaikan saat konferensi pers kepada wartawan via zoom. Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Rektor Bidang Akademik & Kemahasiswaan ISBI Bandung, Indra Ridwan mengungkap kronologi hingga keuntungan pelaku kasus joki Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) 2025 yang terjadi di Pusat UTBK ISBI Bandung pada 25 dan 27 April 2025 lalu.

Maraknya budaya ketidak jujuran dalam ujian alias menyontek membuktikan bahwa generasi saat ini telah rusak baik dari segi akhlak maupun moral. Kondisi ini seolah menjadi budaya dan menunjukkan bukti rusaknya bangsa ini. Semua karena diterapkannya sistem sekuler kapitalis   yang merusak tatanan kehidupan umat manusia. Sistem sekuler kapitalis ini masuk ke semua bidang kehidupan salahsatunya sistem pendidikan. Sistem pendidikan yang berbasis sekularisme telah menghancurkan tatanan moral, akhlak terlebih akidahnya. 

Standar kesuksesan pun diukur dari nilai-nilai angka yang tertera, kesuksesan dalam meraup harta sebanyak mungkin, termasuk juga status sosial di masyarakat tanpa memandang halal haram. 
Akibatnya kian hari generasi bangsa ini  jauh dari syariat Islam. Persaingan 
tidak sehat pun kian nampak dipertontonkan guna menduduki perguruan tinggi favorit. Sewa calo (joki) menjadi jalan pintas menuju gerbang bangku kuliah. Bergengsi, terkenal menjadi sebuah impian, tak peduli dengan dosa karena nihil iman dan takwa. 

Inilah buah sistem sekularisme kapitalis yang mendistorsi nilai-nilai moral dan akhlak.  Pada akhirnya lahirlah generasi yang bermental sakit. Tak heran jika dikemudian hari lahir individu-individu yang suka berperilaku curang, serakah hingga korupsi gila-gilaan. Ambisi untuk mencapai suatu tujuan diamini oleh sistem yang rusak bernama kapitalisme sekuler.  

Sistem ini akan menumbuh suburkan keserakahan, kezaliman dan kesenjangan ekonomi dan sosial. Hanya mereka yang memiliki uang saja yang mampu mengeyam dunia pendidikan tinggi sedangkan bagi yang kurang mampu akan semakin terpinggirkan.
 
Hal Ini pula menciptakan kerusakan sistemik. Sudah seharusnya kondisi dibenahi hingga ke akarnya agar generasi terselamatkan. 

Cita-cita Indonesia emas harus diwujudkan dari sekarang, jika tidak dibenahi maka hanya utopia semata. Indonesia emas bisa berubah menjadi Indonesia cemas. 

Oleh karena itu, sudah sejatinya kita menelisik permasalahan yang dihadapi oleh bangsa ini secara mengakar solusinya. Bukan tambal sulam ataupun parsial yang tidak menyentuh akar masalah. Sistem yang berkeadilan untuk seluruh umat manusia dan mampu mewarnai peradaban dengan lebih bermartabat. 

Sistem tersebut tiada lain adalah Islam kafah. Sebuah sistem yang komprehensif untuk memecahkan setiap masalah manusia hingga ke akarnya. Setiap lini kehidupan pun diatur oleh Islam tanpa terkecuali bidang pendidikan. 

Sistem pendidikan dalam Islam berorientasi akidah dan berstandardisasi halal-haram. Berbasis akidah yang kemudian diterapkan pada kurikulum pendidikan. Sehingga tidak ada lagi pemisahan antara ilmu pengetahuan, tsaqafah dengan akidah. Output pendidikan dalam sistem pendidikan Islam akan melahirkan generasi yang beriman dan bertakwa serta menguasai teknologi yang akan mewarnai peradaban. Generasi yang lahir dari sistem pendidikan Islam nihil dari perilaku curang apalagi menghalalkan segala cara dalam mencapai sebuah tujuan. 

Hal tersebut karena merasa Allah Swt senantiasa mengawasi setiap perilaku manusia. Sebagaimana tercantum di dalam Al Quran yakni, Surah Al-Mujadalah ayat 7:

"Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah yang keenamnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lebih sedikit dari itu dan lebih banyak dari itu, melainkan Dia-lah yang ada bersama mereka di mana saja mereka berada. Kemudian pada hari kiamat Dia akan memberitakan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." 

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah mengetahui segala sesuatu, termasuk pembicaraan rahasia, dan Dia Maha Mengetahui apa yang akan dilakukan oleh manusia di hari kiamat.

Bukan itu saja penguasa (Khalifah) di sistem Islam bertanggung jawab penuh dalam membina rakyatnya. Menyediakan sarana dan prasarana pendidikan yang diberikan secara" GRATIS" kepada rakyat. Bukan hanya itu penguasa memberikan sanksi tegas bagi para pelaku curang dalam dunia pendidikan khususnya. Akibatnya tidak akan ada orang-orang yang berbuat curang, riswan ( siap) di masa depan. 

Alhasil, solusi atas maraknya kecurangan SNBT tiada lain adalah sistem Islam yang kafah dan komprehensif. Bukan lagi sistem sekularisme kapitalis yang sudah jelas merusak generasi dan bangsa  ini.

Walllahualam bissawab. []

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama