Oleh Vera Ulva Theana, S.E., CBMT.
(Pemerhati Ibu dan Anak)
Hari Ibu sering kali terjebak dalam desakan seremoni tahunan, sebatas pertukaran bunga dan rangkaian kata manis yang memuji peran domestik perempuan. Namun, di balik keriuhan perayaan tersebut, tersimpan realitas yang jauh lebih kompleks dan memprihatinkan. Saat ini, sosok ibu tidak lagi hanya berdiri di antara kepulan asap dapur, melainkan dipaksa berada di garda terdepan menghadapi gempuran persoalan sosial, krisis pendidikan, hingga rapuhnya perlindungan terhadap anak.
Pergeseran zaman menempatkan ibu dalam posisi yang dilematis. Di satu sisi, negara dan masyarakat menuntut perempuan untuk menjadi roda penggerak pembangunan dalam bingkai kapitalisme. Di sisi lain, fungsi fundamental mereka sebagai ummun wa rabbatul bayt (ibu dan pengelola rumah tangga) serta pendidik generasi pertama kian terdegradasi.
Ironisnya, di tengah narasi pemberdayaan, ruang paling privat yakni keluarga justru menjadi palagan kekerasan. Kasus pencabutan kekuasaan orang tua akibat kekerasan seksual di Lombok Tengah (Antaranews, 22/12/2025) menjadi alarm keras bahwa status keibuan bukan sekadar anugerah biologis, tetapi mandat moral dan sosial yang sangat berat.
Keluarga adalah Ruang Aman yang Kian Terkikis
Idealnya, keluarga adalah benteng terakhir bagi rasa aman anak. Namun, fakta hukum yang menunjukkan keterlibatan negara dalam mencabut hak asuh akibat kejahatan seksual oleh orang tua kandung mengguncang kesadaran publik.
Peristiwa ini bukan sekadar persoalan hukum, melainkan sinyal krisis pengasuhan yang akut. Tuntutan agar ibu menjadi "orang tua canggih" yang melek teknologi seolah menjadi ironi ketika fondasi kasih sayang dan pemahaman psikologis anak justru runtuh. Kebahagiaan dan kesehatan mental anak bukanlah perkara sepele, ia adalah investasi peradaban yang seharusnya dijaga oleh negara melalui kebijakan preventif yang berpihak pada ketahanan keluarga.
Lebih jauh lagi, kesadaran kolektif harus dibangun bahwa ibu adalah arsitek peradaban yang menentukan kualitas masa depan suatu bangsa. Tantangan zaman yang kian dinamis menuntut ibu untuk memiliki wawasan yang luas, melampaui batas-batas dinding rumah, tetapi tetap berpijak pada nilai-nilai spiritualitas yang kokoh.
Upaya membina ibu dan generasi muda bukan sekadar agenda tambahan, tetapi sebuah kebutuhan mendesak untuk membentuk kepribadian yang tangguh di tengah disrupsi moral. Melalui pendidikan yang berbasis pada Islam kafah, seorang ibu akan mampu menjalankan peran gandanya secara proporsional—menjaga kehangatan keluarga sekaligus menjadi pelopor perubahan di tengah masyarakat.
Kemuliaan dalam Timbangan Iman
Islam memandang peran ibu sebagai kedudukan yang teramat mulia, jauh melampaui standar materi. Allah SWT berfirman, "Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun ..." (QS. Luqman: 14)
Ayat ini menegaskan bahwa kelelahan ibu adalah pengabdian yang tak terbalas oleh benda apa pun. Namun, sistem sekuler kapitalisme hari ini justru mereduksi kemuliaan tersebut dengan memandang ibu dan generasi muda hanya sebagai objek komersial.
Agama dibatasi pada ranah privat, sehingga nilai-nilai Islam kafah tercabut dari akar pengasuhan. Oleh karena itu, kehadiran dakwah Islam menjadi urgensi untuk membina kembali kepribadian ibu agar mampu mencetak generasi pemimpin peradaban, sebagaimana yang diteladankan oleh Rasulullah.
Urgensi Sinergi Sistemis
Pada akhirnya, tanggung jawab besar ini tidak bisa diletakkan hanya pada pundak ibu secara individu. Dibutuhkan sinergi sistemis antara negara, masyarakat, dan jemaah dakwah untuk menciptakan ekosistem yang mendukung peran ibu dalam mencetak generasi unggul. Perlindungan terhadap anak dan pemberdayaan perempuan tidak akan pernah mencapai titik ideal selama sistem yang berlaku masih memandang mereka sebagai komoditas ekonomi semata.
Dengan mengembalikan fungsi negara sebagai pelindung (ra'in) dan pengatur urusan umat berdasarkan syariat, maka kemuliaan ibu akan terjaga secara sistematis. Hari Ibu seharusnya menjadi momentum untuk menuntut kehadiran negara yang melindungi secara sistemis.
Menghormati ibu berarti memperkuat ketahanan keluarga dan memastikan setiap anak tumbuh dalam naungan Islam yang terjaga, menjamin lahirnya generasi pelopor peradaban yang siap membawa perubahan menuju kebangkitan yang hakiki. Itu membutuhkan kehadiran negara yang benar-benar memberikan hak-hak proporsional agar langkah ibu gemilang, tidak harus dicerabut oleh keadaan yang mematikan hakikat ibu karena terlalu banyak menanggung hal yang bukan peranan seharusnya.
Wallahualam bissawab. []
Posting Komentar